LAKSITA JATI, meraih Kasampurnan Hidup

PERBUATAN, PASTI MENIMBULKAN “RESONANSI”

Demikian lah, sebab pada dasarnya perilaku hidup itu ibarat suara yang kita kumandang akan menimbulkan gema, artinya apapun perbuatan kita kepada orang lain, sejatinya akan berbalik mengenai diri kita sendiri.
Jika perbuatan kita baik pada orang lain, maka akan menimbulkan “gema” berupa kebaikan yang lebih besar yang akan kita dapatkan dari orang lainnya lagi.

Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa;
Barang siapa menabur angin, akan menuai badai, Siapa menanam, akan mengetam,
Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan,
Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rezekinya akan menjadi lapang.
Orang pelit, pailit
Pemurah hati, mukti

PERILAKU TAPA BRATA

Idealnya, setiap orang sepanjang hidupnya dapat melaksanakan “tapa brata” atau mesu-budi, menahan hawa nafsu, yg mempunyai kesamaan dengan hakikat puasa seperti di bawah ini:

  1. Tapa/puasanya badan/raga; harus anoraga; rendah hati; gemar berbuat baik.
  2. Tapa/puasanya hati; nerima apa adanya; qona’ah; tak punya niat atau prasangka  buruk, tidak iri hati.
  3. Tapa/puasanya nafsu; ikhlas dan sabar dalam menerima musibah, serta memberi maaf kepada orang  lain.
  4. Tapa/puasanya sukma; jujur.
  5. Tapa/puasanya rahsa; mengerem sembarang kemauan, serta kuat prihatin dan menderita.
  6. Tapa/puasanya cahya; eneng-ening; tirakat atau bertapa dalam keheningan, kebeningan, dan kesucian.
  7. Tapa/puasanya hidup (gesang); eling (selalu ingat/sadar makro-mikrokosmos) dan selalu waspada dari segala perilaku buruk.

Selain itu, anggota badan (raga) juga memiliki tanggungjawab masing-masing sebagai wujud dari hakikat puasa atau tapa brata ;

  1. Tapa/puasanya netro/mata; mencegah tidur, dan menutup mata dari nafsu selalu ingin memiliki / menguasai.
  2. Tapa/puasanya karno/telinga; mencegah hawa nafsu, enggan mendengar yang tak ada manfaatnya atau yang buruk-buruk.
  3. Tapa/puasanya grono/hidung; mencegah sikap gemar membau, dan enggan “ngisap-isap” keburukan orang lain.
  4. Tapa/puasanya lisan/mulut; mencegah makan, dan tidak menggunjing keburukan orang lain.
  5. Tapa/puasanya puruso/kemaluan; mencegah syahwat, tidak sembarangan senggama/zina.
  6. Tapa/puasanya asto/tangan; mencegah curi-mencuri, rampok, nyopet, korupsi, dan tidak suka cengkiling; jail dan menyakiti orang lain.
  7. Tapa/puasanya suku/kaki; mencegah langkah menuju perbuatan jahat, atau kegiatan negatif, tetapi harus gemar berjalan sembari “semadi” yakni berjalan sebari eling lan waspodo.

Tapa/maladihening/mesu budi/puasa seperti di atas dapat diumpamakan dalam gaya bahasa personifikasi, yang memiliki nilai falsafah yang sangat tinggi dan mendalam sbb;

“Katimbang turu, becik tangi.
Katimbang tangi, becik melek.
Katimbang melek, becik lungguh.
Katimbang lungguh, becik ngadeg.
Katimbang ngadeg, becik lumakuo”.
(Daripada tidur lebih baik bangun.
Daripada bangun lebih baik melek.
Daripada melek lebih baik duduk.
Daripada duduk lebih baik berdiri.
Daripada berdiri lebih baik melangkah lah)

Untuk meraih kesempurnaan dalam melaksanakan tata laku di atas, hendaknya setiap langkah kita selalu eling dan waspada.

Agar supaya setelah menjadi manusia pinunjul tidak menjadi sombong dan takabur, sebaliknya justru harus disembunyikan semua kelebihan tersebut, dan tidak kentara oleh orang lain, sehingga setiap jengkal kelemahan tidak memancing hinaan orang lain.

Untuk itu manusia pinunjul harus;

  1. Solahbawa, harga diri, perbuatan, harus selalu di jaga
  2. Keluarnya ucapan harus dibuat yang mendinginkan, menyejukkan, dan menentramkan lawan bicara
  3. Raut wajah yang manis, penuh kelembutan dan kasih sayang.

Kesempurnaan dalam melaksanakan langkah-langkah di atas, seyogyanya menimbang situasi dan kondisi, menimbang waktu dan tempat secara tepat, tidak asal-asalan.
Karena sekalipun “isi”nya berkualitas, tetapi bungkusnya jelek, maka “isi”nya menjadi tidak berharga.
Dengan kata lain, jangan mengabaikan (dugoprayoga) duga kira, bagaimana seharusnya yang baik.
Sebab sesempurnanya manusia tetap memiliki kekurangan atau kelemahan, sehingga manakala kelemahan dan kekurangan tersebut diketahui orang lain tidak akan menjadi “batu sandungan”.

Seperti dalam ungkapan sebagai berikut;

  1. Kusutnya pakaian; tertutup oleh derajat (harga diri) yang luhur.
  2. Terpelesetnya lidah, tertutup oleh manisnya tutur kata.
  3. Kecewanya warna, tertutup oleh budi pekerti.
  4. Cacadnya raga, tertutup oleh air muka yang ramah.
  5. Keterbatasan, tertutup oleh sabar dan bijaksana.

Oleh karena itu, meraih kesempurnaan dalam konteks ini diartikan kesempurnaan dalam melaksanakan tapa brata.
Kegagalan melaksanakan tapa brata, dapat membawa manusia kepada zaman “Paniksaning Gesang” tidak lain adalah nerakanya dunia, seperti di bawah ini;

  • Zamannya kemelaratan,  dimulai dari perilaku boros.
  • Zamannya menderita aib, dimulai dari watak lupa terlena, tanpa awas.
  • Zamannya kebodohan, dimulai dari sikap malas dan enggan.
  • Zamannya angkara, dimulai dengan sikap mau menang sendiri.
  • Zamannya sengsara, dimulai dari perilaku yang kacau.
  • Zamannya penyakit, diawali dari kenyang makan.
  • Zamannya kecelakaan, diawali dari perbuatan mencelakai orang lain.

Sebaliknya, “Ganjaraning Gesang” atau “surganya dunia”, lebih dari sekedar kemuliaan hidup itu sendiri, yakni;

  • Zamannya keberuntungan, awalnya dari sikap hati-hati, tidak ceroboh.
  • Zamannya kabrajan, awalnya dari budi luhur dan belas kasih.
  • Zamannya keluhuran, awalnya dari giat andap asor, sopan santun.
  • Zamannya kebijaksanaan, awalnya dari telaten bibinau.
  • Zamannya kesaktian (kasekten), awalnya dari puruita dan tapabrata.
  • Zamannya karaharjan (ketentraman-keselamatan), awalnya dari eling dan waspada.
  • Zamannya kayuswan (umur panjang), awalnya sabar, qona’ah, narimo, legowo.

SHOLAT / SEMBAHYANG DHAIM

Sejalan dengan bertambahnya usia, seyogyanya hidup itu sambil mencari ciptasasmita, “tuah” atau petunjuk yang tumbuh jiwa yang matang dan dari dalam lubuk budi yang suci.
Pada dasarnya, tumbuhnya budipekerti (bebuden)  yang luhur, berasal dari tumbuhnya rasa eling, tumbuhnya kebiasaan tapa, tumbuhnya sikap hati-hati,  tumbuhnya “tidak punya rasa punya”, tumbuhnya kesentausaan, tumbuhnya kesadaran diri pribadi, tumbuhnya “lapang dada”, tumbuhnya ketenangan batin, tumbuhnya sikap manembah (tawadhu’).

Pertumbuhan itu berkorelasi positif atau sejalan dengan usia seseorang. Akan tetapi, jika semakin lanjut usia seseorang akan tetapi perkembangannya berbanding terbalik, mempunyai korelasi negatif, yakni justru memiliki tabiat dan karakter seperti anak kecil, ia merupakan produk topobroto yang gagal.

Untuk mencegahnya tidak lain harus selalu mencegah hawa nafsu, serta mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk meraih kesempurnaan ilmu. Begitu pentingnya hingga adalah “wewarah” yang juga merupakan nasehat yang hiperbolis, sbb;

“ageng-agenging dosa punika tiyang ulah ilmu makripat ingkang magel. Awit saking dereng kabuko ing pambudi, dados boten superep ing suraosipun”

Bagi yang sudah lulus, dapat menerima semua ilmu, tentu akan menemui kemuliaan “sangkan paran ing dumadi”.
Siapa yang sungguh-sungguh mengetahui Tuhannya, sesungguhnya dapat mengetahui di dalam badanya sendiri. Siapa yang sungguh-sunggun mengetahui badannya sendiri, sesungguhnya mengetahui Tuhannya.

Artinya siapa yang mengetahui Tuhannya, ia lah yang mengetahui semua ilmu kajaten (makrifat). Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui sejatinya badannya sendiri, ia lah yang dapat mengetahui akan hidup jiwa raganya sendiri.

Kita harus selalu ingat bahwa hidup ini tidak akan menemui sejatinya “ajal”, sebab kematian hanyalah terkelupasnya isi dari kulit.
“Isi” badan melepas “kulit” yang telah rusak, kemudian “isi” bertugas melanjutkan perjalanan ke alam keabadian.
Hanya raga yang suci yang tidak akan rusak dan mampu menyertai perjalanan “isi”. Sebab raga yang suci, berada dalam gelombang Dzat Illahi yang Maha Abadi. Maka dari itu, jangan terputus dalam lautan “manembah” kepada Gusti Pangeran Ingkang Sinembah. Agar supaya menggapai “peleburan” tertinggi, lebur dening pangastuti; yakni raga dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci; di sanalah manusia dan Dzat menyatu dalam irama yang sama; yakni manunggaling kawulo gusti.

Dengan sarana selalu mengosongkan panca indra, serta menyeiramakan diri pada Sariraning Bathara, Dzat Yang Maha Agung, yang disebut sebagai “PANGABEKTI INGKANG LANGGENG” (sholat dhaim) sujud, manembah (sholat) tanpa kenal waktu, sambung-menyambung dalam irama nafas, selalu eling dan menyebut Dzat Yang serba Maha.

Adalah ungkapan;

“sholat ngiras nyambut damel, lenggah sinambi lumampah, lumajeng salebeting kendel, ambisu kaliyan wicanten, kesahan kaliyan tilem, tilem kaliyan melek”.
(sholat sambil bekerja, duduk sambil berjalan, berjalan di dalam diam, membisu dengan bicara, bepergian dengan tidur, tidur sembari melek).

Jika ajaran ini dilaksanakan secara sungguh-sungguh, berkat Tuhan Yang Maha Wisesa, setiap orang dapat meraih kesempurnaan Waluyo Jati, Paworing Kawulo Gusti.

One response to this post.

  1. Posted by mbah faams on 13/07/2011 at 4:59 am

    assalamualaikum ki
    ki mohon ijij ngamalkan assma sirr untuk diri pribadi saya
    suwun

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: