HIJAB

Sayyidina Ali RA. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?” Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”

“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Imam Ali menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.

Kisah diatas telah menggambarkan bahwa tidaklah mustahil seorang yang telah beriman untuk dapat melihat Alloh azza wazala, Dia Tuhan yang menciptakannya,

Tuhan yang kita sembah, yang memberi kita hidup. Lalu pertanyaannya kemudian Mungkinkah kita dapat melihatNya ? …, Dimanakah Alloh …?..

Hati merupakan pusat dari segala kemunafikan, kemusyrikan, dan merupakan pusat dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi.
Dan pusat ini merupakan tempat dimana mereka bertemu dengan Tuhannya.
Merupakan janji Alloh saat fitrah manusia menanyakan dimanakah Alloh ?

Lalu, Alloh menyatakan diri-Nya berada “sangat dekat”, sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran “ (QS 2:186)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (QS 50:16)

Didalam ayat-ayat di atas, mengungkapkan keberadaan Alloh sebagai “wujud” yang sangat dekat. Dan kita diajak untuk memahami pernyataan tersebut secara utuh.
Maka dari itu jawaban atas pertanyaan “dimanakah Alloh?”. Al Qur’an mengungkapkan jawaban secara dimensional. Jawaban-jawaban tersebut tidak sebatas itu, akan tetapi dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia seutuhnya.
Saat pertanyaan itu terlontar “dimanakah Alloh “, Alloh menjawab “Aku ini dekat”, kemudian jawaban meningkat sampai kepada “Aku lebih dekat dari urat leher kalian atau dimana saja kalian menghadap disitu wujud wajah-Ku dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu.”

Keempat jawaban tersebut menunjukkan bahwa Alloh tidak bisa dilihat hanya dari satu dimensi saja, akan tetapi Alloh merupakan kesempurnaan wujud-Nya, seperti didalam firman Alloh : “Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keragu-raguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha meliputi segala sesuatu.” (QS 41:54)

“Dan kepunyaan Alloh-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Alloh Maha luas lagi Maha mengetahui” (QS 2:115)

Sangat jelas sekali bahwa Alloh menyebut dirinya “Aku” berada meliputi segala sesuatu, dilanjutkan surat Al Baqoroh ayat 115 ..dimana saja engkau menghadap disitu wajah-Ku berada!!!

Kalau kita perhatikan jawaban Alloh, begitu lugas dan tidak merahasiakan sama sekali akan wujud-Nya.
Namun demikian Alloh mengingatkan kepada kita bahwa untuk memahami atas ilmu Alloh ini tidak semudah yang kita kira.
Karena kesederhanaan Alloh ini sudah dirusak oleh anggapan bahwa Alloh sangat jauh. Dan kita hanya bisa membicarakan Alloh nanti di alam surga.

Untuk mengembalikan zhon kita kepada pemahaman seperti yang diungkap oleh Al Qur’an tadi, kita hendaknya memperhatikan peringatan Alloh, bahwa Alloh tidak bisa ditasybihkan (diserupakan) dengan makhluq-Nya.

Didalam kitab tafsir Jalalain ataupun didalam tafsir fi dzilalil qur’an, membahas masalah surat Fushilat ayat 54, Alloh meliputi segala sesuatu adalah ilmu atau kekuasaan-Nya yang meliputi segala sesuatu, bukan dzat-Nya.
Pendapat ini merupakan tafsiran ulama, untuk mencoba menghindari kemungkinanmasyarakat awam mentasybihkan (menyerupakan) wujud Alloh dengan apa yang terlintas didalam fikirannya ataupun perasaannya.
Sehingga “Alloh” sebagai wujud sejati ditafsirkan dengan sifat-sifat Nya yang meliputi segala sesuatu.

Untuk itu, saya husnuzhon memahami pemikiran para mufassirin sebagai pendekatan ilmu dan membatasi pemikiran para awam.
Akan tetapi kalau “Alloh” ditafsirkan dengan sifat-sifat-Nya, yang meliputi segala sesuatu. Akan timbul pertanyaan, kepada apanya kita menyembah ?
Apakah kepada ilmunya, kepada kekuasaan-Nya atau kepada wujud-Nya?
Kalau dijawab dengan kekuasan-Nya atau dengan ilmu-Nya maka akan bertentangan dengan firman Allah :
“Sesungguhnya Aku ini Alloh , tidak ada tuhan kecuali “Aku”, maka sembahlah “Aku” (QS 20:14)

Ayat ini menyebutkan “pribadinya” atau dzat Alloh, kalimat sembahlah “Aku”.
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan menghadapkan wajahnya kepada wajah Dzat yang Maha Mutlak. Sekaligus menghapus pernyataan selama ini yang justru menjauhkan “pengetahuan kita” tentang dzat, kita menjadi takut kalau membicarakan dzat, padahal kita akan menuju kepada pribadi.Alloh, bukan nama, bukan sifat dan bukan perbuatan Alloh. Kita akan bersimpuh dihadapan sosok-Nya yang sangat dekat.
Ungkapan tentang Tuhan, juga disebut sebagai dalil pertama yang menyinggung hubungan antara dzat, sifat, dan af’al (perbuatan) Alloh.
Diterangkan bahwa dzat meliputi sifat ; sifat menyertai nama ; nama menandai af’al.
Hubungan-hubungan ini bisa diumpamakan seperti madu dengan rasa manisnya, pasti tidak dapat dipisahkan.

Sifat menyertai nama, ibarat matahari dengan sinarnya, pasti tidak bisa dipisahkan.
Nama menandai perbuatan, seumpama cermin, orang yang bercermin dengan bayangannya, pasti segala tingkah laku yang bercermin, bayangannya pasti mengikutinya.
Perbuatan menjadi wahana dzat, seperti samudra dengan ombaknya, keadaan ombak pasti mengikuti perintah samudra.
Uraian di atas menjelaskan, betapa eratnya hubungan antara dzat, sifat, asma, dan af’al Tuhan.
Hubungan antara dzat, dan sifat ditamsilkan laksana hubungan antara madu dan rasa manisnya.
Meskipun pengertian sifat bisa dibedakan dengan dzat..namun keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Kalimat Alloh meliputi segala sesuatu (QS 41:54) adalah kesempurnaan .. dzat , sifat, asma, dan af’al.
Sebab kalau hanya disebut sifatnya saja yang meliputi segala sesuatu, lantas ada pertanyaan, “sifat” itu bergantung kepada apa atau siapa ?
Jelas akan bergantung kepada pribadi (Aku) yang memiliki sifat.
Kemudian kalau sifat yang meliputi segala sesuatu, kepada siapakah kita menghadap? Kepada Dzat atau sifat Alloh, kalau sifat Alloh sebagai obyek ibadah kita, maka kita telah tersesat, sebab sifat, asma dan perbuatan Alloh bukanlah sosok dzat yang Maha Mutlak itu sendiri.

Semua selain Alloh adalah hudust (baru),. karena “adanya” sebagai akibat adanya sang Dzat. seperti adanya alam, adanya malaikat, adanya jin dan manusia.
Semua ada karena adanya dzat yang maha qodim, seperti perumpamaan madu dan manisnya, sifat manis tidak akan ada kalau madu itu tidak ada.
Dan sifat manis itu bukanlah madu, sebaliknya madu bukanlah sifat manis.
Artinya sifat manis tergantung kepada adanya “madu”.
Apakah Dzat itu, seperti apa? Apakah ada orang yang mampu menjabarkan keadaannya ?

Singkat kata, dualitas berkaitan dengan sifat diskursus manusia tentang Tuhan. Untuk bisa memahami Tuhan, kita harus mengerti keterbatasan-keterbatasan konsepsi kita sendiri, karena menurut perspektif ketakperbandingan tak ada yang bisa mengenal Alloh kecuali Alloh sendiri!!!
Karena itu kita punya pengertian tentang Tuhan, “Tuhan” konsepsi saya dan “Tuhan” konsepsi hakiki, yang berada jauh diluar konsepsi saya.
Tuhan yang dibicarakan berkaitan dengan “konsepsi saya”.
Konsepsi Dzat yang hakiki tidak bisa kita fahami, baik oleh saya maupun anda.
Karena itu kita tidak bisa berbicara tentangnya secara bermakna. bagaimana kita bisa memahami tentang Dia, sedang kata-kata yang ada hanya melemparkan kita keluar dari seluruh konsepsi manusia.
Seperti, Al awwalu wal akhiru (Dia yang Awal dan yang akhir), Dia yang tampak dan yang tersembunyi (Al Zhohiru wal bathinu), cahaya-Nya tidak di timur dan tidak di barat (la syarkiya wa la ghorbiya), tidak laki-laki dan tidak tidak perempuan, tidak serupa dengan ciptaan-Nya dst.

Kenyataan Tuhan tidak bisa dikenal dan diketahui berasal dari penegasan dasar tauhid `Laa ilaha illalloh atau Laysa ka mitslihi syai’un’ (tidak sama dengan sesuatu).
Karena tuhan secara mutlak dan tak terbatas benar-benar dzat maha tinggi, sementara kosmos berikut segala isinya hanya secara relatif bersifat hakiki, maka realitas Ilahi berada jauh diluar pemahaman realitas makhluq.
Dzat yang maha mutlak tidak bisa dijangkau oleh yang relatif.

Kita dan kosmos (alam) berhubungan dengan tuhan melalui sifat-sifat Ilahi yang menampakkan jejak-jejak dan tanda-tandanya dalam eksistensi kosmos.
Kita tidak bisa mengenal dan mengetahui Tuhan dalam dirinya sendiri, tetapi hanya sejauh Tuhan mengungkapkan diri-Nya melalui kosmos (sifat, nama, af’al).
Firman Alloh:
“Dialah Alloh, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Dia mempunyai nama-nama yang yang indah “(QS 20:8)

Sifat, nama, dan af’al, secara relatif bisa dirasakan dan difahami “maknanya”. Akan tetapi “Dzat”, adalah realitas mutlak. Dan untuk memahami secara hakiki harus mampu memfanakan diri, … yaitu dengan memahami bahwa keberadaan makhluq adalah tiada.
Firman Alloh : “(yang memiliki sifat-sifat yang..) Demikian itu ialah Tuhan kamu. tidak ada Tuhan selain Dia. pencipta segala sesuatu maka sembahlah Dia, dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan. dan Dialah yang Maha halus lagi Maha mengetahui” ( QS 6:102-103)

Realitas bahwa Dzat Tuhan tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu (QS 26:11) …berlaku sampai diakhirat kelak.
Walaupun Tuhan sendiri mengatakan bahwa manusia di alam surga akan melihat realitas Tuhan secara nyata atas eksistensi Alloh, bukan berarti kita melihat dengan perbandingan pikiran manusia yang dimaksud melihat secara hak disini adalah kesadaran jiwa muthmainnah yang telah lepas dari ikatan alam atau kosmos. Atau biasa disebut “fana”, keadaan ini manusia dan alam seperti keadaan sebelum diciptakan yaitu keadaan masih kosong ‘awang uwung’ (jawa), kecuali Alloh sendiri yang ada.
Tidak ada yang mengetahui keadaan ini kecuali Alloh sendiri.

Keadaan awal (Al Awwalu) tidak ada yang wujud selain Alloh, tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada alam apapun yang tercipta.
Untuk mengetahui keadaan seperti ini marilah kita ikuti kisah nabi Musa As.
Firman Alloh : “Dan tatkala Musa datang (untuk munajat) dengan Kami, pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. Berkatalah Musa : ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku. Agar aku dapat melihat kepada Engkau. Tuhan berfirman: kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihat-lah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagaimana sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan, maka setelah Musa sadar kembali dia berkata. Maha Suci Engkau, dan aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman” (QS 7:143)

Ada yang menarik dalam peristiwa “pertemuan” nabi Musa … dan saya hubungkan dengan pembahasan mengenai keadaan “kefanaan” manusia dan alam. Yakni keadaan hancur luluh lantak keadaan gunung Thursina dan keadaan Musa jatuh pingsan!!!
Setelah gunung itu hancur dan Musa-pun jatuh pingsan, tidak satupun yang terlintas realitas apapun didalam perasan Musa dan fikirannya, kecuali ia tidak tahu apa-apa. Yaitu realitas konsepsi manusia dan alam tidak ada (fana).
Dalam keadaan inilah Musa melihat realita Tuhan, bahwa benar Tuhan tidak bisa dibandingkan oleh sesuatu apapun.
Kemudian Musa kembali sadar memasuki realitas dirinya sebagai manusia dan alam.
Musa berkata : aku orang yang pertama-tama beriman..dan percaya bahwa Alloh tidak seperti konsepsi “saya”.

Setelah kita mengetahui dan faham akan Dzat, sifat, dan af’al Alloh, teranglah fikiran dan batin kita, sehingga secara gamblang kedudukan kita dan Alloh menjadi jelas, yaitu yang hakiki dan yang bukan hakiki.
Terbukalah mata kita dari ketidak tahuan akan Dzat, ketidaktahuan inilah yang dimaksudkan dengan tertutupnya hijab, sehingga perlu disadarkan oleh kita sendiri atau seorang guru yang mursyid agar kemudian dapat meningkat kepada mengenal-Nya (ma’rifat).

Hijab atau tirai itu berkenaan dengan mereka yang terdinding / terhalang dengan Dzat Yang Agung itu. Nur / Cahaya Alloh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: