Aku tetap mencintaimu meskipun…

love

Kebanyakan suami, di seluruh dunia manapun, tidak pernah merasa benar-benar puas dengan pasangan hidupnya. Ketika mendapati beberapa kekurangan pada istrinya, seringkali suami mengangankan untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik. Sudah sunatullah bahwa tidak ada satu mahkluk pun di dunia ini yang sempurna.

Sekalipun kriteria seorang istri sudah memuaskan, pasti ada orang lain yang lebih baik darinya pada beberapa hal tertentu. Oleh karenanya, Allah melarang kita bersikap tidak pernah puas dan memandang pasangan orang lain. Allah berfirman :

“Janganlah sekali-kali kamu mengarahkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan diantara mereka (orang-orang kafir) dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman.” (Al Hijr : 88)

Ketidakpuasan terhadap pasangan hidup adalah penyebab utama munculnya problematika rumah tangga. Kebahagiaan suami istri semakin menipis seiring semakin minimnya rasa puas terhadap pasangan hidupnya. Bahkan, boleh jadi hal itu menyebabkan kesengsaraan, perceraian, dan perlakuan buruk.

Selain manusia memiliki perbedaan dalam hal bentuk, tinggi, berat, akal, harta, keindahan dan wawasan, setiap pasangan memiliki sifat-sifat positif dan sejumlah sisi negatif lainnya.

Meskipun pasangan hidup memiliki sifat-sifat yang memuaskan, seiring berjalannya waktu, hal itu akan menjadi biasa-biasa saja atau tidak menarik lagi. Lantas, suami akan mengangankan, andai saja istrinya memiliki sifat positip yang dimiliki orang lain dan tidak ia lihat pada istrinya. Dari sinilah kesengsaraan dan permasalahan rumah tangga bermula.

Andai manusia puas dengan pasangan yang diberikan Allah, setelah ia berusaha keras, mulai dari istikharah, meminta pandangan orang lain, cermat memilih, memperjelas tujuan, waspada dan tidak tergesa-gesa, tentunya ia akan hidup lebih bahagia dan menyelamatkan dirinya dan orang lain dari kesusahan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi kecukupan rezki, dan diberi rasa puas dengan apa yang diberikan Allah.” (HR. Muslim).

Keislaman, rezki yang cukup, dan rasa qana’ah adalah sarana mencapai kebahagiaan, keberuntungan dan keselamatan.

Umar bin Khaththab ra pernah mencela seseorang yang ingin menceraikan istrinya karena sudah tidak mencintainya lagi.

“Celakalah kamu! Apakah semua rumah tangga dibangun atas dasar cinta semata? Ke mana rasa sungkan, malu, dan perlindunganmu terhadap pasangan hidupmu?”

Semakin puas seseorang terhadap pasangan hidupnya, semakin besar kebahagiaan mereka dan semakin sedikit problem rumah tangga mereka. Faktor utama yang dapat menyebabkan penerimaan terhadap pasangan hidupnya adalah saling melihat pasangan hidup sebelum melangsungkan pernikahan dan memilih pasangan hidupnya tanpa ada paksaan dari orang lain.

Buka mata anda lebar-lebar sebelum menikah dan bukalah sedikit saja setelahnya. Karena aku masih tetap mencintaimu bukan karena ….., tetapi aku masih tetap mencintaimu meskipun…

http://nitafitria.wordpress.com/2009/07/15/aku-tetap-mencintaimu-meskipun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: