SEJARAH TASAWUF #20

Sesudah Imam Abu Hasan Syadzili wafat, tongkat estafet kemursyidan diberikan kepad Syekh Abbas al-Mursi, yang dilahirkan di Murcia, Spanyol (yg juga tempat kelahiran Syekh Akbar Ibn Arabi). Beliau mengabdi kepada Syekh Hasan Syadzili sampai sang syekh wafat. Setelah diangkat menjadi mursyid utama, Syekh Abbas al-Mursi menghabiskan waktu hampir sepanjang hayatnya di Mesir. Berbeda dengan Imam Syadizli yg bersedia berhubungan dekat dengan penguasa, Syek Abu Abbas Mursi ini justru menjauhi penguasa dan bahkan menolak semua sumbangan yang diberikan oleh para Sultan Mamluk.

Syekh Abbas Mursi memiliki murid-murid istimewa yang kelak tersohor di sepanjang zaman. Salah satunya adalah Syekh BUshiri, penyair legendaris dari suku Berber, pengarang Qasidha Burdah dan Hamziyyah. Syair ini sering dibacakan pada setiap peringatan Maulid Nabi sampai sekarang ini. Murid lainnya adalah Syekh Yaqut al-Arsyi, dari Abisinia. Syekh Yaqut ini pernah dikunjungi oleh Ibn Batutah, seorang pengelana musim yang tersohor. Ibn Batutah sendiri tampaknya sangat tertarik dengan ajaran Syadziliyyah dan karenanya beliau mencatat dan membaca Hizb Bahr selama petualangannya di lautan. Kemudian, murid lainnya yang legendaris adalah Syekh Najmuddin al-Ishfahani, yang lama menetap di Mekah dan menyebarkan Tarekat Syadziliyyah di sana. Beliau adalah guru Syekh Yafi’i, dan melalui Syekh Yafi’i inilah Tarekat Syadziliyyah menjalin hubungan yang baik dengan Tarekat Ni’matullahi. Dan satu lagi, yg dianggap poros generasi ketiga tarekat SYadizliyyah, Syekh Ibn Athaillah as-Askandari.

Syekh Imam Ibn Athaillah al-Sakandari adalah guru utama generasi ketiga dalam Tarekat Syadiziliyyah. Beliau adalah penulis kitab Tasawuf yang amat terkenal, Kitab al-Hikam, sebuah kitab yang berisi wejangan keruhanian dan hakikat-ma’rifat yang bermutu sastra tinggi. Kitab ini banyak diajarkan di berbagai tarekat di seluruh dunia, dan juga di sebagian besar pesantren di Indonesia. Beliau termasuk salah satu syekh Sufi yang telah memadukan ilmu syari’at dan lautan hakikat dan karenanya menempati maqam yang tinggi – banyak yang meyakininya sebagai salah satu Qutub pada zamannya.

Nama lengkapnya adalah Syekh Ahmad ibn Abi Bakr Muhammad ibn Abi Muhammad Abdul Karim ibn Abdur Rahman ibn Abdullah ibn Ahmad ibn Isa ibn al-Husain ibn Athaillah al-Iskandari. Diperkirakan beliau lahir sekitar tahun 650 H. Sejak kecil beliau telah dipersiapkan untuk menjadi ahli fiqh mazhab Maliki. Beliau berguru kepada ulama-ulama yang terbaik di bidangnya, seperti bidang tata bahasa, hadits, tafsir, ilmu kalam dan fiqh. Kakeknya cenderung kurang menyukai ajaran Sufi dan bahkan memusuhi Syekh ABU ABBAS AL-MURSI, guru besar generasi kedua dalam Tarekat Syadziliyyah. Bahkan Syekh Athaillah sendiri pada mulanya berseberangan dengan Syekh Abbas al-Mursi. Pada masa mudanya Syekh Ibn Athaillah sudah terkenal sebagai faqih mazhab Maliki yang mumpuni. Beliau pernah beradu argumentasi dengan beberapa murid Syekh Abu Abbas al-Mursi.

Namun akhirnya beliau menemui langsung Syekh Abu Abbas al-Mursi untuk membahas beberapa masalah agama. Pertemuan ini menjadi saat yang menentukan dalam hidupnya. Beliau akhirnya justru menjadi murid Syekh Abu Abbas al-Mursi dan menjadi salah satu murid kesayangannya. Bahkan Syekh Abu Abbas al-Mursi sudah meramalkan bahwa Syekh Ibn Athaillah tidak akan meninggal sebelum menjadi dai yang menyeru ke Jalan Allah. Dan perkiraannya itu terbukti. Di Kairo, Syekh Ibn Athaillah menghabiskan sisa hidupnya sebagai Guru Sufi sekaligus faqih bermazhab Maliki yang termasyhur. Selain menjadi Mursyid Tarekat Syadiziliyyah, Syekh Ibn Athaillah juga menjadi juru dakwah dan mengajar di berbagai madrasah dan institusi besar seperti Al-Azhar. Pada masa-masa ini pula Syekh Athaillah dikenal juga membela ajaran Sufi dari serangan Ibn Taimiyyah. Syekh Ibn Athaillah sendiri sempat bertemu dengan Ibn Taimiyyah dan melakukan dialog. Namun dialog ini tidak menimbulkan perdebatan sengit lebih lanjut dan diakhiri dengan sikap saling menghormati. Syekh Ibn Athaillah meninggal pada bulan Jumadilakhir tahun 709 H/1309 M. Makamnya di al-Qarrafah al-Kubra hingga kini terkenal sebagai makam keramat dan diziarahi oleh banyak orang Islam.

Barangkali al-Hikam adalah karya beliau yang paling terkenal dan dikagumi hingga saat ini. Kitab ini telah melahirkan banyak ulasan (syarah). Menurut keterangan Syekh Zarruq, kitab ini tidak ditulis sendiri oleh Syekh Ibn Athaillah, namun didiktekan kepada muridnya yang bernama Syekh Taqiyyuddin as-Subki, seorang ahli fiqh dan kalam yang terkenal akan ketelitian dan kejujurannya.

Tema dasar kitab ini adalah ma’rifat dan hakikat. Ia berisi penjelasan rinci tentang doktrin “Kesatuan Wujud.” Di dalamnya juga dibeberkan adab spiritual. Ma’rifat bukan sekedar aktivitas intelektual semata; dibutuhkan partisipasi total dalam adab lahir dan batin dalam menjalani ajaran agama. Adab dalam pengertian ini adalah upaya penyesuaian jiwa terhadap kehendak Tuhan.
Kitab ini secara garis besar terbagi menjadi tiga bagian: aforisme atau pepatah/aksioma spiritual, risalah dan munajat (doa). Aksioma spiritual itu berupa ungkapan pendek-pendek dan mendalam. Meski dalam versi aslinya tidak diberi nomor, secara keseluruhan aksioma itu berjumlah 262 buah dan sebagian pensyarah membaginya menjadi 25 bab. Aksioma-aksioma ditulis dengan gaya sastra yang indah, sehingga sebagian ulama menyebutnya “nyaris seperti al-Qur’an.” Berikut beberapa contoh aforisme spiritual dalam Kitab al-Hikam:

Usahamu untuk mengetahui beberapa kekurangan (cela) yang tersembunyi dalam dirimu adalah lebih baik ketimbang usahamu menyingkap tirai gaib.

Tanamlah dirimu dalam bumi kerendahan hati (ketidakterkenalan), karena segala sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak tertanam akan tidak berbuah dengan sempurna.

Adakalanya orang yang belum sempurna isiqamahnya diberi rezeki karamah.

Kitab al-Hikam juga mengandung doa, namun bukan sekadar meminta atau memuja, melainkan juga doa yang seolah “bertanya” dengan sangat tajam. Akan tetapi, dengan analisis apapun, pertanyaan-petanyaan yang pelik dalam al-Hikam itu tampaknya tidak akan pernah bisa dijawab dengan memuaskan oleh siapapun. Ini seolah-olah menunjukkan bahwa pembaca al-Hikam diajak untuk sterus-menerus mendaki jalan ruhani yg seperti tiada batas akhirnya baik dari segi mahabbah maupun ilmu makrifat, karena Ilmu ALlah tiada batasnya jika dilihat dari perspektif manusia. Dalam banyak bagian al-Hikam, tampak berupa semacam “dialog” dengan Tuhan, sehingga cara membacanya pun sesungguhnya tidaklah sembarangan. Jika dibaca dengan benar dan melalui ijazah dari otoritas mursyid yg berwenang, setiap pembacaan atas teks yg berupa “dialog” itu akan menghasilkan pemhaman yang mendalam dan terus-menerus bertambah dan menaikkan maqam spiritual (dan tentu saja disertai berbagai macam ujian yang akan dihadapi oleh para salik yang membaca dan mengamalkan kandungan Hikam). Itulah salah satu sebabnya mengapa kitab al-Hikam ini menarik banyak sufi dan bahkan kalangan akademisi.

Dalam kitab Hikam ini, Syekh Athaillah juga menggunakan tamsil Al- Qur’an dan ilmu kalam Asyariah, dipadukan dengan saripati dari nasihat2 Syekh JUnayd al-Baghdad dan Muhasibi, dan tentu saja nasihat dari leluhur ruhani Syadiziliyyah, yang semuanya itu bermura pada upaya untuk menjelaskan secara simbolik dua misteri Ketuhanan: Transendensi (tanzih) atau ketakterjangkauan Allah dalam pemahaman manusia namun pada saat yg sama TUhan sengaja menjadikan DIriNya terjangkau tanpa mengaburkan batas antara Pencipta dan Makhluk.

Kitab karyanya yang lain adalah Miftah al-Falah wa Mishbah al-Arwah, yang berisi penjelasan tentang metode zikir. Di dalamnya beliau memaparkan beberapa jenis zikir dan Asma Allah yang cocok untuk berbagai kondisi murid. Kitab At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir merupakan penjelasan ajaran Tarekat Syadiziliyyah tentang berbagai bentuk kebajikan, seperti ikhlas, harapan, cinta, dan sebagainya. Lathaif al-Minan merupakan kitab yang menjelaskan biografi dua tokoh Tarekat Syadziliyyah dan ajaran-ajarannya, yakni biografi Syekh Abu Hasan al-Syadzili dan Syekh Abu Abbas al-Mursi. Di dalamnya juga dipaparkan keterangan tentang Wali Allah dan beberapa amalan utama (zikir, hizb dan doa) dua Wali Allah tersebut. Kitab Al-Qash al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism al-Mufrad, yang menyajikan pembahasan ringkas Asma al-Husna, dengan pemaparan teori metafisika Asma al-Husna. Kitab Taj al-Arus al-Hawi li Tahdzib an-Nufus, berisi kutipan-kutipan dari al-Hikam, at-Tanwir dan Lathaif.

Kitab Al-Hikam telah diberi syarah oleh banyak ulama besar, seperti Abdullah As-Syarqawi (Syarh al-Hikam), Abdul Majid as-Syarnubi (Syarh al-Hikam), Syekh Ahmad Zarruq (al-Futuhat ar-Rahmaniyyah dan Miftah al-Fadhail), Ibn Abbad ar-Rundi (Syarh al-Hikam) dan Ibn Ajibah (Iqazh al-Himam). Dan salah satu murid Ibn Athaillah yang ulasannya sangat terkenal adalah Syekh Ibn Abbad ar-Rundi tersebut,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: