SEJARAH TASAWUF #18

Sebelum kita lanjutkan menengok pada peran spiritual dari para syekh sufi, kita tengok sebentar peran sosial tarekat yg berkembang pada abad pertengahan ini, sebab setelah akhir periode 1200 dan awal periode 1300, perkembangan tasawuf mulai bergerak ke arah bentuk yg sedikit berbeda. lagipula, pada periode setelah 1300-an ini “perseteruan” mulai lebih sengit antara penganut tasawuf dengan anti-tasawuf (terutama sejak Ibn Taimiyyah) dan antara pengikut tasawuf dan kaum nonmuslim. lagipula, pertemuan Islam dengan peradaban Barat modern ikut memengaruhi perkembangan pemikiran Islam pada umumnya dan pemikiran tasawuf pada khususnya.

Kini tampak bahwa 5 abad setelah wafatnya Rasulullaah SAW, ajaran Tasawuf yg pada awalnya disebarkan oleh sufi-sufi individual, secara bertahap menemukan bentuk baru sebagai semacam organisasi. Tarekat-tarekat generasi awal sebagian mendominasi sebagian wilayah tertentu, dan sebagian lainnya mendominasi wilayah lainnya. Karena itu beberapa tarekat berperan sangat penting dalam konteks lokal dan regional. Namun meskipun tarekat-tarekat telah mapan, masih banyak sufi individual yang tidak berafiliasi atau mendirikan tarekat, seperti misalnya Ibn Arabi, meskipun ajarannya memengaruhi banyak tarekat di seluruh dunia.

Jika kita lihat konteks abad pertengahan ini tampak bahwa sebagian besar umat Muslim pada saat itu menjadi anggota tarekat atau setidaknya berafiliasi dengan tarekat atau syekh sufi tertentu, meski tidak sedikit pula yg memusuhinya, terutama dari kalangan penguasa dan ulama yang memiliki kepentingan pribadi (misalnya kecemburuan karena kalah pamor, keinginan dekat dengan penguasa, ulama2 su’ yg menjual agama, dan sebagainya). Karena proses perkembangan tawawuf dan pemantapan organisasi tarekat terjadi di masa yg penuh gejolak, mau tak mau pengaruh situasi ikut mewarnai proses berdirinya tarekat itu. Boleh dikatakan sebagian besar mursyid dan ikhwan tarekat pada masa itu adalah generasi awal yang berperan besar dalam mempertahankan peradaban Islam dari kehancuran total. Perang Salib yg berlangsung sampai 200 tahun terjadi bersamaan dengan proses perkembangan dan pemantapan ajaran tasawuf pada umumnya, dan tarekat pada khususnya. Perang Salib yang pecah pertama kali pada sekitar tahun 1090-an, mengawali sebuah periode di mana Islam yang pada awalnya terpusat di kawasan Timur Tengah, Mesopotamia dan Persia menjadi tersebar ke belahan lain di dunia. Perang Salib menyebabkan bertemunya dua peradaban yang pada mulanya tidak saling menyapa. Penyebaran ini diperluas setelah pasukan Mongol menyerbu jantung peradaban Islam pada abad pertengahan tersebut.

Pada saat yg sama, para sufi dan mursyid dan ikhwan tarekat ikut terlibat langsung dalam berbagai pertempuran menghadapi tentara salib, entah itu dengan terjun langsung (seperti yg dilakukan oleh Wali Qutub Abu Madyan), atau secara tak langsung dengan memberikan kontribusi doa atau ijazah (atau “suwuk) untuk memperkuat mental pejuang Islam, seperti yg dilakukan oleh Imam Abu Hasan Syadzili. Bahkan para sufi dari tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah banyak yang menempati kedudukan tinggi di pusat pemerintahan, dan sebagian besar syekh dari tarekat Naqsyabandi menjadi penasihat spiritual dari para sultan dalam mengelola pemerintahan, seperti misalnya Khawajah Ubadilillah Ahrar di kawasan Asia Tengah, atau yg lebih belakangan, Imam Rabbani Syekh Ahmad Sirhindi di India.

Selain peran politik dan sosial, peran ekonomi para sufi dan tarekat generasi awal sangat kentara sekali. Pusat-pusat zawiyah dan knahaqah sufi menjadi semacam sumber perekonomian umat kelas bawah. Para sufi dari berbagai tarekat semisal Qadiriyyah, Mawlawiyyah, Naqsybandiyah, dan sebagainya telah berperan sebagai “bufffer” atau penyangga perekonomian umat kelas bawah, melalui mekanisme sedekah, zakat, perdagangan, dan pemberdayaan ekonomi, kesenian dan kesusastraan. Misalnya, dari segi pemberdayaan ekonomi, syekh-syekh dari Tarekat Syadiziliyyah, Naqsyabandiyya, Qodiriyyah dan Ni’matullah mendorong anggotanya untuk mandiri secara ekonomi. tarekat Ni’matullah, misalnya, melarang anggotanya untuk menggantungkan nafkahnya dari belas kasih orang lain – mereka diajak untuk bertani. dan ajakan ini tidak sekadar himbauan, tetapi mursyidnya turun tangan langsung membantu, entah itu dengan menyediakan pinjaman lunak, menyewakan lahan – bahkan pendiri tarekat Ni’matullah tidak hanya memberi saran, tetapi juga tauladan dengan ikut langsung bergulat dengan cangkul dan lumpur di lahan pertanian miliknya.

Di sisi lain, para sufi juga berperan besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dasar, seperti filsafat, seni arsitektur, politik dan terutama ilmu agama. Cukup kita sebut contoh Syekh Ibn Arabi untuk menunjukkan betapa besar sumbangsihnya pada kajian filsafat-religius di dunia Islam. Bahkan dewasa ini ajaran Ibn Arabi, dan juga ajaran para Syekh Sufi pada umumnya, menjadi bahan kajian yg menarik bagi cabang filsafat yg diberi nama filsafat perennial. Nanti, pada periode yg lebih modern, para periode kolonialisme yg berkecamuk, justru ajaran-ajaran tasawuf-falsafi inilah yang membuka jalur untuk masuknya ajaran Islam ke jantung peradaban Kristen-Barat di Eropa dan Amerika, sebelum kemudian diikuti oleh masuknya gelombang tarekat yang lebih formal dan membawa serta ajaran syariat Islam secara lebih komprehensif ke dunia Barat pada awal abad 18 M.

Maka jelas bahwa tesis bahwa ajaran tasawuf menyebabkan kemunduran dan anti-dunia adalah pendapat yg keliru. Kekeliruan ini bisa dipahami mengingat orang yg sudah tidak senang dengan ajaran para sufi lebih suka melihat tasawuf dari sisi mistis-nya belaka, terutama pada syekh-syekh sufi kontroversial generasi awal semacam al-Hallaj,Abu Yazid, Ibn Arabi dan yg lainnya. Lagipula para penentang tasawuf umumnya enggan membaca sejarah lengkap perkembangan dan ajaran tasawuf secara obyektif, sehingga pendapat mereka lebih banyak dipenuhi prasangka buruk yg tidak berdasar. Adalah benar bahwa selalu ada penyimpangan dalam tradisi agama apapun. Tetapi, jika ada nabi palsu yg menyesatkan, itu bukan berarti semua nabi adalah palsu. Demikian pula, jika ada sufi palsu dan sesat, itu bukan berarti semua sufi adalah sesat. Sayangnya, sebagian umat Muslim generasi belakangan lebih senang melihat pada sufi-sufi palsu yg menyimpang dan menyamaratakan sufi palsu itu dengan para sufi sejati yg benar-benar mengajarkan ajaran tasawuf berdasarkan Qur’an dan Sunnah Nabi.

Sekarang mari kita kembali menengok perkembangan tasawuf dari dalam. Sampai bagian ini sudah kelihatan oase-oase besar keruhanian bermunculan di berbagai tempat. Mulai dari jazirah Arab, Timur Tengah, kawasan Persia, Asia Tengah, sebagian Eropa abad pertengahan, India dan Asia Kecil, para sufi dan syekh tarekat menyebarkan ajarannya. Dan pada periode yng hampir sama (awal 1300-an) para sufi sudah menginjakkan kaki hingga ke wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Afrika, misalnya, hampir sezaman dengan perkembangan awal tarekat Syadziliyyah, muncul wali besar lain yg sangat berpengaruh di Mesir. Wali besar ini, dengan tradisi yg sedikit berbeda dengan tradisi Syadziliyyah, berdakwah terutama dikalangan petani. Beliau adalah Syekh Ahmad Badawi, pendiri tarekat Badawiyyah yg masyhur. Siapakah wali agung yg ketenarannya terasa hingga ke seluruh kawasan Mesir ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: