SEJARAH TASAWUF #16

dalam memimpin tarekat Chistiyyah, Syekh Muinuddin Chisti menetapkan berbagai aturan yg secara sepintas tampak ekstrim, seperti:

Tak boleh meminjam uang,tidak boleh meminta-minta meski lapar, jika punya kelebihan makanan, uang, panen, dan pakaian, tidak boleh disimpan lebih dari sehari dan harus disedekahkan, tidak boleh mencela orang, tidak boleh menganiaya, jika beramal baik tidak boleh menisbahkan amalnya pada dirinya sendiri dan harus bersyukur kepada ALlah dan berterima kasih kepada “Pir” atau Mursyid, jika melakukan dosa harus segera bertaubat, harus rajin puasa dan shalat wajib dan menghabiskan malam dengan shalat sunnah, harus menyedikitkan bicara dan kalau bicara harus karena ingin mendapat ridho Allah.

Seiring dengan berjalannya waktu, tata-tertib itu kelak mengalami beberapa modifikasi. Syekh Muinuddin Chisti bersahabat baik dengan Syekh Hamid al-din al-Shufi yang kelak membangun pusat kegiatan tarekat di Rajasthan. Salah satu murid Syekh Muinuddin CHisti, Khawajah Qutub al-Din Bakhtiar Kaki yg bermukim di Delhi menjadi ulama berpengaruh di istana, dan bahkan Sultan Syamsuddin Iltutmisy sangat memuliakan beliau. Syekh Bakhtiar Kaki sempat menetap di Baghdad dan bertemu dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, namun beliau tetap memilih menjadi murid Syekh Muinuddin Chisti. Syekh Bakhtiar Kaki sering mengadakan ritual sama’ (konser ruhani) dengan menggunakan musik dan tarian.

Pewaris Syekh Bakhtiar Kaki adalah Fariduddin Mas’ud atau yang lebih dikenal sebagai “Ganj-i-Syakar” atau Baba Farid. Baba Farid ini mendapat latihan ruhani yang keras dari Syekh Bakhtiar Kaki – termasuk dengan berzikir dan membaca Qur’an selama 40 hari dengan bergantungan kaki di atas kepala di bawah (yg dinamakan amalan chilla-yi ma’kus, yang dipertama kali diamalkan oleh Syekh Abu Said al-Khair). Kepopuleran Baba Farid tersebar ke segala penjuru India, dan bahkan para pertapa Yogi sering mengunjunginya untuk berdiskusi soal-soal Ketuhanan tanpa rasa canggung. Baba Farid juga dikenal sebagai penyair sufi.

Penerus Baba Farid adalah Khawaja Nizhamuddin al-Awliya, yg menetap di Delhi sampai akhir hayatnya pada 1325 M. Beliaulah yang mengkristalisasikan ajaran Tarekat Chistiyyah di India bagian utara. Syekh NIzhamuddin al-Awliya dikenal karena ilmu ladunni-nya – dan bahkan para ulama anti0Tasawuf kagum kepadanya.

Sebagaimana tarekat lainnya, Chistiyyah juga mengajarkan wirid dan zikir tertentu. Tarekat ini juga menggunakan teknik khusus yang disebut pan-i anfas (pengendalian nafas) dengan pola duduk mirip postur Yogi. Menurut tradisi Chistiyyah, setiap nafas memiliki hubungan tertentu dengan maqam-maqamruhani. Seorang sufi sejati di tarekat ini sanggup membaca zikir tertentu dengan hanya satu nafas. Bagi yg sudah memiliki maqam tinggi, kemampuan mereka menahan nafas sangat luar biasa. Konon beberapa mursyid CHistiyyah mampu membaca kalimat tahlil 101 kali dalam satu nafas saja.

Tarekat Chistiyyah berakar pada tradisi Sunnui dan menganut mazhab Hanafi. Pengaruh ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi baru masuk ke tarekat ini setelah era Khawajah Muinuddin al-Hasan.Para mursyid Chistiyyah banyak yg berjuang keras untuk berdakwah di dunia yang didominasi oleh ajaran Hindu Bahkan salah satu mursyidnya, Khawajah Bandah Nawaz Gisu daraz mempelajari bahasa Sanskrit agar mampu melakukan debat dengan para brahmana. Peran politiik sufi-sufi Chistiyyah juga tak bisa diremehkan. Para penguasa Mughal, mulai dari Sutan Akbar, bahkan sampai abad 18 M, dipengaruhi oleh para sufi Chistiyyah. Sebagian karena para sufi inilah, maka kolonialisme dan modernisme,westernisasi, dan bahkan salafi-wahhabi tidak mampu meredam perkembangan Tasawuf di India dan sekitarnya.

Namun tentu saja wali-wali Allah yg menjaga ruh Tasawuf tidak hanya dari kalangan Tarekat Chistiyyah. Sumbangan terbesar dari para sufi terhadap pemeliharan ajaran tasawuf dimulai setelah penaklukan India oleh Sultan Mahmud dari Ghaznah. Tarekat-tarekat selain Chistiyyah yg berkembang di sana antara lain Tarekat Kaziruniyyah, yang didirikan oleh Syekh Abu Ishaq Ibrahim ibn Syahruyar. Bahkan ajaran Syekh JUnaid al-Baghdad dikristalkan di india melalui pendirian Tarekat Junaidiyyah. Pendirinya adalah Syekh Abu Fadhil al-Kuttali, yg juga dari guru wali Allah termasyhur, Syekh Abu Utsman Hujwiri al-Jullabi, penulis kitab Kasyful Mahjub yg terkenal itu. Kitab ini membuka jalan bagi pemantapan pemikiran sufi di India, Persia dan Asia Tengah. Karya yg barangkali bisa menandingi kualitas Kasyful Mahjub pada periode itu datang dari sufi dari tarekat Suhrawardiyyah, Syekh Syihabuddin al-Suhrawardi, yakni Awarif al-Ma’arif. Salah satu muridnya, yakni Syekh Bahauddin Zakariyya menjadi tokoh spiritual penting di masa kekuasaan Multan. Invasi Mongol ke wilayah itu berhasil diatasi berkat bantuan dari Syekh Bahauddin Zakariyya ini.

Syekh Bahauddin Zakariyya ini punya menantu yg juga menjadi sangat tersohor di dunia Tasawuf, yakni Syekh Fakhruddin Iraqi, yg menulis risalah syair berjudul Lama’at, yang didasarkan pada pelajaran dari Syekh Sadruddin Qunawi (anak angkat dan menantu dari Syekh Akbar Ibn Arabi dari Andalusia, penggagas wahdat al-wujud).

Fakhruddin Iraqi adalah Wali Allah yang juga penyair yang agung, salah satu tokoh Qalandar yang paling terkenal di dunia Tasawuf. Beliau termasuk salah satu tokoh utama generasi ketiga dalam tradisi ajaran mazhab Muhyiddin IBN ‘ARABI. Syair-syairnya berisi penafsiran ajaran wahdat al-wujud, terutama yang disusun dalam Lama’at. Sajak-sajaknya, yang mengajarkan metafisika eksistensi dan hakikat cinta-ilahi bukan hanya terkenal di kawasan Persia tetapi juga di India dan menjadi bagian integral dari puisi cinta sufi yang didendangkan dengan iringan musik.

Bila aku telah menjadi Kekasih
Lantas siapakah sang pecinta?
– Lama’at, Fakhruddin Iraqi,

Fakruddin Ibrahim al-Iraqi lahir di desa Kamajan dekat kota Hamadzan pada 1213 (610 H), sebagai putra dari keluarga pecinta ilmu pengetahuan dan sastra. Menurut kisah, sebelum beliau lahir, ayahnya bermimpi bertemu Sayyidina Ali ibn Abi Thalib bersama beberapa Wali Allah lain. Seorang Wali maju menyerahkan seorang anak kepada Sayyidina Ali. Sambil memangku anak itu, Sayyidina Ali memanggil ayah Iraqi sambil berkata, “Terimalah Iraqi kita dan rawatlah dengan baik karena ia akan menjadi ‘penguasa’ dunia.” Sejak kecil Syekh Iraqi mendapat pendidikan agama yang baik; pada usia sembilan tahun beliau sudah hafal al-Qur’an. Suaranya sangat merdu jika membaca kitab suci itu – siapapun yang mendengarnya akan terhanyut dan bahkan menangis. Karenanya setiap pagi-pagi banyak orang akan berkumpul di rumahnya hanya untuk mendengarkannya membaca al-Qur’an. Bahkan karamahnya telah tampak sejak beliau masih kecil ini. Alkisah, ketika sedang membaca sebuah ayat, sekelompok orang nonmuslim yang sedang melintas dan mendengarnya langsung terpesona, dan langsung menemui Syekh Iraqi dan mengucapkan kalimat syahadat. Sebelumu usia 20 tahun Syekh Iraqi telah menguasai semua cabang ilmu agama dengan baik, dan menjadi ahli tafsir, hadits, fiqh dan ahli kalam yang mumpuni.

Pertemuannya dengan sekelompok sufi Qalandar mengubah seluruh kehidupannya. Beliau merasakan kerinduan yang begitu besar kepada sufi-sufi Qalandar yang sempat singgah di kotanya. Sejak itu beliau mulai berkelana mencari para Qalandar dan kemudian bergabung dengan mereka. Beliau ikut mengembara bersama mereka ke seluruh kawasan Persia hingga India. Iraqi sempat berguru kepada Syekh Bahauddin Zakariyya Multani, seorang mursyid Tarekat Suhrawardiyah, yang telah menempati kedudukan Qutb al-Awliya. Dibawah pengawasannya, Syekh Iraqi menjalani khalwat 40 hari. Selama khalwat ini Syekh Iraqi mengalami jadzab dan tenggelam dalam cinta ilahi, dan mulai sering menyenandungkan sajak-sajak cinta mistis. Tetapi karena aturan Tarekat Suhrawardiyah cukup ketat, Syekh Iraqi dicurigai para murid lainnya dan mulai dianggap gila. Mereka mengadukannya kepada Syekh Bahauddin Zakariyya. Namun Syekh Bahauddin Zakariyya mengatakan, “Kelakuan semacam itu mungkin terlarang bagi kalian, namun tidak bagi dia!” Ketika kemudian salah satu sajaknya menjadi amat terkenal di kota, Syekh Bahauddin Multani memanggil Syekh Iraqi dan memberinya khirqah (jubah) kesufian, sebagai tanda kesempurnaan spiritual. Beliau juga dijodohkan dengan putri Syekh Selama 25 tahun berikutnya Syekh Iraqi melayani Syekh Bahauddin Zakariyya dan selama itu pula beliau terus mencipta sajak-sajak yang indah. Sebelum meninggal, Syekh Bahauddin mewariskan kepemimpinan tarekat kepada Syekh Fakhruddin Iraqi. Namun karena murid-murid lainnya tak suka kepadanya, mereka menyebar fitnah dan bersekongkol dengan penguasa (yang sejak lama merasa takut dengan potensi kekuatan tarekat). Para penguasa itu menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan tarekat tersebut. Syekh Fakhruddin Iraqi kemudian memutuskan untuk mengembara lagi dan menjadi lebih terkenal.

Saat haji di Mekah, beliau bermalam tiga hari di dekat pusara Rasulullah saw dan menerima banyak penyingkapan ruhani. Kemudian beliau berangkat ke Damaskus dan Turki dan akhirnya tinggal di Konya, dan bersahabat dengan dua Wali Agung terkemuka pada zamannya, Syekh Shadruddin Qunawi (murid dan putra angkat Syekh Akbar Ibn ‘Arabi) dan Maulana JALALUDDIN RUMI. Melalui Syekh Qunawi inilah Syekh Iraqi mendapat tempaan spiritual kedua. Syekh Qunawi bukan hanya menempanya secara spiritual, tetapi juga secara intelektual. Setiap selesai mengikuti pelajaran Qunawi mengenai kitab Fusush al-Hikam karya Ibn ‘Arabi, Syekh Iraqi menggubah renungan ringkas tentang pelajaran itu dalam bentuk sajak. Koleksi sajak mistis ini kemudian diberinya judul Lama’at (Kilauan Cahaya). Model sajaknya, menurut beliau sendiri, dipengaruhi oleh gaya sajak dalam Sawanih karya AHMAD AL-GHAZALI. Koleksi sajak itu kemudian dibacakan di depan Syekh Sadruddin Qunawi, yang kemudian mengatakan, “Wahai Iraqi, engkau telah menulis suatu rahasia. Sesungguhnya Lama’at adalah inti dari Fusush!”

Syekh Iraqi, sebagai Qalandar, masih senang melakukan pengembaraan. Meski banyak pihak yang memintanya menetap di satu tempat – dan bahkan seorang penguasa membangun sebuah rumah untuknya – namun Syekh Iraqi tetap memilih bebas. kepopulerannya menarik banyak murid, termasuk dari para pejabat. Salah seorang pejabat, bernama Mu’inuddin Parwanah, sebelum tewas dihukum mati oleh kaisar Mongol, menyerahkan seluruh kekayaannya – sekantong penuh permata – kepada Syekh Iraqi, sambil berpesan agar membebaskan anaknya yang ditahan di Kairo. Namun Syekh Iraqi hanya menyimpannya di kamar tanpa pernah membuka, apalagi menyentuh isi kantung itu. Tetapi ada beberapa kalangan yang tak menyukainya dan menyebarkan fitnah. Penguasa Pangeran Kangritay terhasut oleh fitnah itu dan memerintahkan agar Syekh Fakhurddin Iraqi ditangkap untuk dihukum mati. Sahabat-sahabat Iraqi memperingatkannya dan membantunya mengungsi. Syekh Iraqi kemudian pergi ke Mesir. Syekh Iraqi menemui sultan Mesir untuk memintanya membebaskan anak Parwanah. Dihadapan Sultan, Syekh Iraqi menyerahkan sekantung permata itu sambil menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, dan kemudian menyampaikan amanat Parwanah itu. Sultan heran ketika mengetahui sekantung permata yang amat mahal itu tidak diambil satupun oleh Syekh Iraqi. Sultan Mesir kemudian membebaskan anak Parwanah dan mengangkat Syekh Iraqi menjadi pemimpin Syekh di Mesir, dan memerintahkan agar esok hari seluruh ulama dan sufi menghadiri acara pengangkatannya. Keesokan harinya ribuan sufi dan ulama menyaksikan bagaimana sultan sendiri yang menaikkan Syekh Fakhruddin Iraqi ke atas kuda milik sultan dan memberinya jubah kehormatan. Tetapi Syekh Iraqi, yang menyadari bahaya bangkitnya ego dan kebanggaan diri, lalu merobek jubah itu. Semua yang hadir heran dan mencemoohnya. Namun sultan justru makin percaya kepada kewalian Syekh Fakhruddin Iraqi.

Syekh Iraqi kemudian memutuskan pergi ke Damaskus meskipun sultan mencoba membujuknya agar tetap tinggal di Mesir. Konon keinginannya ke Damaskus ini karena undangan Syekh Akbar Ibn ‘Arabi lewat mimpinya. Dengan bantuan sultan, Syekh Fakhruddin Iraqi sampai ke Damaskus tanpa aral-melintang dan bahkan disambut hangat penuh suka-cita oleh penduduk setempat. Syekh Fakhruddin Iraqi meninggal di sana pada 12 November 1289 (8 Dzulqaidah 688) dalam usia 78 tahun. Makamnya hingga kini ramai dikunjungi peziarah. Kelak beliau oleh sebagian orang disebut sebagai “samuderanya orang Persia.”

Kitab Lama’at penuh dengan metafisika cinta dan wahdat al-wujud dalam tradisi Syekh Akbar Ibn ‘Arabi. Dalam kitab ini Syekh Iraqi mengidentifikasi apa itu Cinta dalam pengertian hubb dan isyq. Syekh Iraqi menjelaskan, secara puitis, beberapa tahapan menuju ke hakikat kemanusiaan, Insan Kamil. Cinta menurut Syekh Iraqi adalah alasan di balik terciptanya segala wujud yang ada, yang bersumber dari Wujud yang Esa. Zat Allah yang tiada batas memanifestasikan diri-Nya melalui tajalli-Nya yang tak berkesudahan. Tetapi manifestasi yang maujud itu bukan dalam bentuk wujud tersendiri yang independen dari Wujud-Nya. Ini adalah salah satu prinsip dasar dalam ajaran Syekh Ibn ‘Arabi – wahdat al-wujud. Dalam analisis terakhir, awal dan akhir dari Cinta adalah Penyatuan – Wujud dan Insan Kamil pada hakikatnya adalah satu, sebab Wujud hanya ada satu. Si pecinta adalah Yang Dicintai, karena wujudnya lenyap dalam Wujud Kekasih, sedangkan Yang Dicintai tetap dalam keadaan keabadian sebagaimana adanya tanpa penambahan – “Dia sekarang adalah sebagaimana Dia yang dulu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: