SEJARAH TASAWUF #15

Kini kita tengok secara ringkas perkembangan Tasawuf di anak benua India dan sekitarnya. Wilayah ini secara spiritual sangat penting dalam perkembangan Tasawuf di dunia, terutama karena pengaruhnya yang merembes hingga ke kawasan Asia Tenggara (Thailand, Vietnam, Filipina sampai ke Nusantara).

Tarekat awal yang berpengaruh di India adalah Suhrawardiyyah dan Chistiyyah, namun tampaknya yang masih dominan sampai sekarang adalah Tarekat Chistiyyah. Asal muasal tarekat Chistiyah dapat dilacak sejak abad 9 M di kota Chist, Afghanistan, sebelah timur Herat. Silsilahnya sampai ke Hasan al-Basri. Dalam silsilah ini mereka memberikan kedudukan yg sangat tinggi bagi Syekh ABu Said ibn Abi al-Khair yg telah kami singgung di bagian sebelumnya. Kini saatnya kita telisik lebih jauh sufi agung ini.

Syekh Abu Said al-Khair adalah Sufi dan penyair masyhur, tokoh Sufi pertama yang merancang prinsip-prinsip aturan lembaga kerohanian atau tarekat bagi para pengikutnya. Beliau dianggap sebagai penemu pertama metode khalwat yang disebut sebagai chilla-yi ma’kus, yakni khalwat selama empat puluh hari dengan posisi badan terbalik, kepala tergantung di bawah – metode yang kelak dipakai oleh mursyid tarekat Chistiyah di India.

Nama lengkapnya adalah Abu Sa’id Fadhl Allah ibn Abi al-Khair, lahir pada 1 Muharram 357 H (atau 967 M) di Khawaran, Khurasan. Ayahnya, Abu al-Khair, atau dikenal sebagai Babu Bu al-Khair adalah ahli obat yang saleh dan religius, serta akrab dengan syariat dan tarekat. Sang ayah ini biasa berkumpul tiap malam dan jika ada tamu Sufi, biasanya mereka akan melakukan sama’ atau konser musik spiritual. Syekh Abu Sa’id ibn Abi al-Khair mendapat pendidikan pertama kali dari Abu Muhammad al-Ayyari, yakni dalam bidang membaca Qur’an. Beliau belajar tata bahasa Arab kepada Abu Sa’id al-Ayyari dan pelajaran dasar-dasar Islam dari Abu al-Qasim Bisyr-i Yasin. Syekh Bisyr ini tampaknya merupakan salah satu tokoh penting dalam pendidikan spiritual Syekh Abu Sa’id. Syekh Bisyr mengajari muridnya untuk berzikir, dan memberinya ijazah sebuah doa, yang kelak diakui oleh Syekh Abu Sa’id sebagai doa yang “melalui barokah dalam kata-kata [doa] itu maka jalan menuju Tuhan terbuka bagiku saat aku masih kanak-kanak.” Doa itu berbentuk syair munajat yang artinya kurang lebih:

Tanpa-Mu, wahai Kekasih, aku tiada dapat bersandar/Kasih sayang-Mu padaku tak dapat kuperikan/Walau tiap helai rambut di tubuhku menjadi lidah/ seperseribu syukurku pada-Mu tak kan terucap.

Syekh Abu Sa’id memang suka ada sajak, dan sejak muda konon beliau sudah hafal sekitar 30,000 syair puisi pra-Islam. Salah satu tokoh Sufi penting bagi kehidupan spiritualnya adalah Syekh Abu al-Fahdl al-Hasan; menurut Syekh Abu Sa’id, penyebab dari kesempurnaan tingkatan tasawufnya adalah “berkat tatapan dari Syekh Abu Fadhl kepadaku … saat aku berjalan di tepian sungai, Syekh Abu Abu Fadhl al-Hasan berjalan kepadaku dari arah berlawanan dan memandangku. Sejak saat itu, semua pencapaian spiritual adalah hasil dari tatapan itu.”

Atas perintah guru ini, Syekh Abu Sa’id kemudian menyepi ke sebuah ruang di rumahnya di Mayhana selama tujuh tahun. dan setiap hari tiada putus-putusnya berzikir dengan ism al-Dzat, “Allah, Allah, Allah” sepanjang siang dan malam, hingga akhirnya setiap sel dalam tubuhnya ikut berzikir “Allah, Allah, Allah.”

Setelah tujuh tahun ini, Syekh Abu Sa’id kembali kepada gurunya, Syekh Abu al-Fadhl al-Hasan untuk melanjutkan pelatihan ruhaninya. Kemudian beliau merawat ibunya, sembari tetap melakukan mujahadah dan riyadah spiritual. Pada masa ini beliau sering mengunjungi sebuah tempat khalwat yang disebut “Biara Tua” di Merv. Beberapa rekannya menggambarkan disiplin ketat Syekh Abu Sa’id seperti berikut: beliau tak pernah duduk bersandar, tak pernah merebahkan badan, hanya mengenakan satu pakaian yang terus bertambah berat sebab, setiap kali, beliau akan menempelkan tambalan padanya; beliau tak pernah bertengkar, jarang bicara kecuali yang perlu saja, berpuasa setiap hari dan hanya berbuka dengan sepotong roti atau seteguk air, selama di kamar beliau hanya berzikir, menyumbat telinganya dengan kapas dan tetap berkonsentrasi mengawasi dunia batinnya sendiri (muraqabah al-sirr).

Syekh Abu Sai’d, menurut salah satu biografinya, mencapai kesempurnaan spiritual pada periode kedua pelatihan ruhaninya, yakni setelah menjalani tirakat dan riyadhah spiritual yang ketat selama tujuh tahun di kawasan pegunungan Mayhana hingga usia 40 tahun. Selama periode ini beliau berkelana sendirian dan kerap menghilang selama beberapa bulan. Kadang-kadang orang yang menjumpainya melihat beliau berjalan bersama seorang lelaki tua, yang belakangan oleh Syekh Abu Sa’id diungkapkan bahwa orang tua itu adalah Nabi Khidir as. Sang ayah, yang mengkhawatirkan keadaan anaknya, akhirnya memintanya pulang. Tetapi Syekh Abu Sa’id selalu keluar setiap malam ke Biara Tua. Sang ayah pernah mengikuti anaknya itu secara diam-diam, dan kemudian memberikan kesaksian tentang metode chilla-yi ma’kus yang dijalani anaknya di tempat khalwat itu, seperti berikut:

… Dia masuk dan menutup pintu, sementara aku naik ke atap untuk mengintipnya … ada sebuah tongkat di lantai, dengan tali. Dia mengambil tongkat itu dan mengikatkan ujung tali di kedua kakinya. Kemudian dia meletakkan tongkat itu menyilang di atas sebuah liang yang berada di sudut kamar. Dia menggantungkan dirinya dengan kepala di baawah dan mulai melafalkan ayat-ayat al-Qur’an. Dia tetap dalam posisi tergantung terbalik seperti itu hingga fajar datang. Selesai mengkhatamkan al-Qur’an [selama semalam itu] dia lalu bangkit keluar dari liang, meletakkan tongkatnya di tempat semula, lalu keluar kamar dan berwudhu [untuk shalat Subuh].

Sekembalinya ke Mayhana, oleh Syekh Abu al-Fadhl menyuruhnya untuk berdakwah. Namun Syekh Abu Sa’id justru menambah latihan asketiknya dan bertambah tekun. Beliau bahkan rutin melaksanakan shalat 400 rakaat dengan berdiri di ujung jari kaki, yang menurutnya adalah meniru Nabi yang pernah shalat dengan berdiri dengan ujung jari kaki akibat kakinya terluka saat perang Uhud. Setelah Syekh Abu al-Fadhl al-Hasan wafat, beliau pergi ke Amul di Thbaristan, tempat berkumpulnya para Sufi di kediaman Syekh Abu al-Abbas al-Qasysyab yang terkenal di sana. Kemudian bersama beberapa sahabatnya beliau berkelana hingga ke Nasa’ – sebuah kota suci karena konon terdapat 400 makam wali-wali Allah. Pada akhirnya, setelah bertahun-tahun bermujahadah dan riyadhah demikian kerasnya, beliau mencapai kesempurnaan. Hijab-hijab kedirian lenyap. Beliau mencapai maqam spiritual di mana “pencerahan ruhani” yang dialaminya tidak pernah terhenti sedetikpun. Saat bercakap-cakap dengan seorang wali Allah agung, Syekh Abu Ali al-Daqqaq, Syekh Abu Sa’id bertanya kepadanya tentang apakah pengalaman ini bisa permanen. Syekh al-Daqqaq menjawab tidak. Setelah tiga kali diulang pertanyaan itu, akhirnya Syekh al-Daqqaq menjawab, “Jika bisa permanen, maka hal itu sangat jarang terjadi.” Mendengar ini, Syekh Abu Sa’id gembira karena “yang jarang terjadi” itu adalah pengalaman yang dialaminya.

Pencerahan sempurna tiada batas ini terjadi saat beliau berumur 40 tahun. Sejak itu beliau kerap bepergian, di antaranya ke Nisyapur dan Kharaqan, di mana beliau mengunjungi seorang wali Allah terkenal bernama Abu Hasan al-Kharaqani. Syekh Abu Hasan al-Kharaqani ini kemudian menjadi sahabatnya. Dalam suatu kesempatan Syekh Abu Hasan al-Kharaqani berkata kepada Syekh Abu Sa’id al-Khair: “Bersikaplah bijak dan waspadalah, sebab engkau senantiasa bersama Allah. tidak ada sifat manusia yang tersisa di sini, tidak ada nafs yang tertinggal di sini. Semua di sini adalah Allah, semua adalah Allah.” Syekh Abu Hasan juga menyaksikan bahwa Ka’bah datang dan berthawaf mengelilingi Syekh Abu Sa’id al-Khair.

Selama di Nisyapur beliau berjumpa dengan ABU QASIM AL-QUSYAIRI, penulis kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ilm al-Tashawwuf yang terkenal itu. Pada periode ini pula Syekh Abu Sa’id sudah sering melakukan sama’ dan tarian ekstase. Selama di Nisyapur ini Syekh Abu Sa’id dimusuhi oleh para hakim dan teolog dan ulama zahir, yang menganggapnya sesat dan pernah hendak dihukum gantung, meski hukuman itu gagal karena kekuatan karamah Syekh Abu Sa’id. Selama di Nisyapur, pola kehidupan Syekh Abu Sa’id agak berubah. Beliau menjalani hidup yang relatif nyaman secara lahiriah, banyak menjamu makan untuk para sahabatnya. Orang yang pernah menemuinya menggambarkannya sebagai wali Allah yang “bertubuh gemuk, kulit putih, dengan jenggot panjang hingga ke perut, berpakaian jubah bertambal-tambal; memegang tongkat dan bungkusan; sajadah terselempang di bahunya, membawa pisau cukur dan sikat gigi; mengenakan serban Sufi dan sepatu kain; serta cahaya memancar dari wajahnya.” Tetapi kemasyhurannya sebagai wali Allah semakin besar. Beliau juga mengelola dan memimpin khanaqah, sebuah tempat untuk pertemuan dan pelatihan Sufi.

Syekh Abu Sa’id al-Khair hidup selama 1000 bulan (83 tahun 4 bulan). Beliau wafat di Mayhana pada 1049 M (4 Sya’ban 440 H), di makamkan di sebelah masjid di seberang rumahnya. Di makamnya terdapat tulisan dalam bahasa Arab yang dipilihnya sendiri, dan salah satu kalimatnya adalah: Tuliskan pada batu nisanku: Ini adalah makam insan yang mengenal cinta.

Salah satu ajarannya yang menonjol adalah ajaran tentang aturan bagi penghuni khanaqah yang dipimpinnya. Beliaulah tokoh yang pertama kali mengorganisasikan semacam lembaga tarekat, dan pertama kali menyusun aturan yang terperinci. Sepuluh aturan itu adalah:

1. Murid atau salik harus menjaga kesucian dan kebersihan pakaian dan diri mereka sendiri.
2. Murid dilarang bergunjing di dalam masjid atau tempat suci lainnya.
3. Murid, terutama pemula, dianjurkan untuk selalu shalat berjamaah.
4. Murid dianjurkan selalu melakukan shalat malam (tahajud) dan berdoa.
5. Pada waktu subuh murid harus banyak-banyak berdoa memohon ampunan atau beristighfar.
6. Selepas subuh murid harus banyak membaca al-Qur’an; tidak boleh bicara sampai matahari terbit kecuali membaca Qur’an, mengucap istighfar atau zikir lainnya.
7. Di antara waktu maghrib dan isya’ murid harus menyibukkan diri dengan zikir dan wirid di bawah tuntunan mursyidnya.
8. Murid atau Sufi harus menyambut hangat kaum miskin, orang yang membutuhkan dan semua orang yang berada dalam kekurangan, dan bersabar dalam kesulitan (menjaga dan menghadapi) mereka.
9. Tidak diperkenankan makan sendirian, harus dengan teman.
10. Tidak diperkenankan pergi dari khanaqah tanpa izin. (Peraturan ini dimaksudkan untuk menjaga murid dari bahaya yang tersembunyi di jalan ruhani.)

Demikianlah sekilas perikehidupan sufi agung yg meletakkan dasar organisasi tarekat yang kelak akan terus berkembang. Kebanyakan mursyid tarekat Chistiyyah menempuh amalan ruhani 40 hari seperti yg dilakukan oleh Syekh ABu Said al-Khair.

Tarekat Chistiyyah sendiri. meski tradisi amalannya sudah ada sejak Khwajah Utsman al Harwani, namun secara resmi dianggap dibentuk oleh Syekh Muinuddin Chisti, yang hidup sezaman dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Beliau sempat bertemu dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan mengambil barokah darinya. Syekh Muinuddin Chisti kemudian mengembara sampai ke Iran, berjumpa dengan syekh Utsman yang memerintahkannya pergi ke India, di mana tasawuf sudah mulai mapan di kawasan Punjab dan Sindh.

Beliau sampai di Lahore dan kemudian menuju Delhi. belakangan beliau pindah lagi ke Ajmer yang telah ditaklukkan oleh Sultan Delhi pada 1195/96 M. Ajmer dipimpin oleh gubernur Muslim. Lantas bagaimanakah sepak terjang Syekh Muinuddin Chisti hingga Tarekat Chistiyyah bisa sedemikian kuat dan berpengaruh di India sampai sekarang?

One response to this post.

  1. Posted by Kris Budiono on 03/04/2011 at 2:22 pm

    Terimakasih atas tulisannya, dan menambah ilmu pengetahuan buat saya, n May Allah bless You always

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: