SEJARAH TASAWUF #14

Kini sesudah masuk ke abad 12 M, Tarekat-tarekat mulai mengkristal, dan tradisi silsilah (mata rantai ruhani) pun mulai mapan. Proses kristalisasi yang dimulai sejak era Abu Said al-Khair dimulai dari pusat-pusat peradaban Islam dan sekitarnya, seperti Baghdad, Khurasan, dan sebagainya. Kurang lebih seabad setelah proses kristalisasi tarekatdi pusat peradaban, menjelang akhir abad 12 M ajaran Tarekat mulai menyentuh ke wilayah yang jauh dari pusat kekhalifahan awal, atau dapat dikatakan tarekat-tarekat mulai sampai ke wilayah periferal (pinggiran) dunia Islam. Ancaman dari pasukan Mongol menyebabkan banyak orang ISlam beremigrasi, termasuk juga para ulama sufi. Pada bagian ini, kita akan menengok ke wilayah lain di luar pusat kekuasaan Islam yang pelan-pelan tapi pasti tersentuh oleh dakwah ulama Sufi dan kelak beberapa abad kemudian akan menjadi pusat kekuasaan Islam yang baru.

Sebagian Sufi beremigrasi dari Bahgdad atau Persia atau Asia Tengah menuju ke Afghanistan, dan sebagian lainnya terus bergerak ke arah anak benua India. Pengaruh al-Hallaj dan syiah di kawasan India saat itu cukup besar, namun kemunculan tarekat baru dimulai sekitar pertengahan akhir abad 11 ketika para pengikut Tarekat Suhrawardiyyah pindah ke bagian barat laut India dan kemudian menetap di sana.

Sebelum tarekat mulai mengkristal dalam bentuk yang relatif mapan, kebangkitan dinasti Ghaznavid yang berhasil menaklukkan kawasan Punjab dan Lahore mempercepat akselerasi masuknya kaum Sufi individual ke jantung negeri India namun tidak mendirikan organisasi tarekat. Ada bukti historis bahwa kaum Sufi sudah banyak yang berdiam di India sejak pertengahan abad 11 M. Di bawah kekuasaan Ghaznavid, kota Lahore menjadi pusat aktivitas Tasawuf yang masyhur.Salah satu sufi pertama yang beremigrasi ke sana adalah Syekh Abu Utsmanibn Ali al-Jullabi al-Hujwiry, yang lebih dikenal dengan julukan Data Ganj Baskhsh. Beliau adalah penulis risalah Tasawuf tertua dalam bahasa Persia, yang berjudul Kasyful Mahjub.

Ali ibn Utsman al-Hujwiri lahir di Ghanzi, Afghanistan. Beliau berguru kepada Syekh Abu al-Qasim al-Gurgani (seorang mursyid tarekat Naqsyabandiyah) dan Khwaja Muzhaffar dan Syekh Abu Fadhl al-Khuttali, yang memerintahkannya untuk pindah dan berdakwah di Lahore. Karya terpentingnya, Kasyful Mahjub, masih ada sampai sekarang. Karya ini adalah karya Tasawuf terlengkap pertama yang berbahasa Persia, berisi banyak materi penting: biografi tokoh-tokoh sufi penting, pembahasan maqam-maqam ruhani, ucapan-ucapan para SYaikh, aliran-aliran Tasawuf dan ajarannya, serta makna esoteris atau makna ruhani dari beragam konsep syariat dan Tasawuf. Salah satu ciri yang menarik dari karya ini adalah kisah-kisah sufistik yang diperolehnya selama melakukan perjalanan di Iran, Asia Tengah dan Timur Tengah.

Menurut al-Hujwiry, tujuannya menulis kitab ini adalah untuk mengemukakan sebuah “sistem” tasawuf yang komprehensif, jadi bukan sekedar menghimpun sejumlah besar ujaran Syekh Sufi dan Wali Allah. Beliau menjelaskan banyak doktrin dan praktik Sufi. Bab yang amat mengagumkan dalam Kasyaf al-Mahjub adalah bab yang membahas “Doktrin-Doktrin Pelbagai Mazhab Sufi,” di mana beliau mencantumkan 12 mazhab tasawuf dan menguraikan doktrin-doktrin khususnya.

Beliau juga yang menjelaskan panjang lebar untuk doktrin fana di India untuk pertama kalinyanya. Beliau berpendapat bahwa makna sesungguhnya dari ajaran Islam bisa dijumpai dalam inti ajaran Tasawuf. Mengenai deskripsi Tasawuf, beliau mengutip pernyataan al-Junayd al-Baghdad:

Tasawuf didasarkan pada delapan sifat yang dicontohkan oleh delapan rasul: kedermawanan Ibrahim, yang mengorbankan putranya; kepasrahan Ismail, yang menyerahkan dirinya pada perintah Tuhan dan menyerahkan hidupnya; kesabaran Ayub, yang sabar menahan penderitaan penyakit borok dan kecemburuan dari Yang Maha Pemurah; perlambang Zakaria, yang menerima sabda Tuhan, “Kau tak akan bicara dengan manusia selama 3 hari kecuali dengan menggunakan lambang-lambangmu” (Q. S. 3: 36) dan “tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (Q. S. 19:2); keterasingan Yahya, yang terasing di negerinya sendiri dan di tengah kaumnya sendiri; perjalanan ruhani Isa, yang meninggalkan benda duniawi sehingga ia hanya menggunakan sebuah cangkir dan sebuah sisir – bahkan cangkir itu dibuangnya ketika melihat seseorang minum dengan telapak tangannya, dan dibuang pula sisirnya ketika dia melihat seseorang menyisir dengan jemarinya; jubah wool Musa; dan kefakiran Muhammad, yang dianugerahi kunci segala harta yang ada di muka bumi, di mana Allah bersabda, “Jangan menyusahkan diri sendiri, tetapi nikmati kemewahan ini,” namun Rasulullah menjawab, “Ya Allah, hamba tidak menghendakinya; biarkan hamba sehari kenyang dan sehari lapar.”

Kelak Syekh Hujwiri ini memengaruhi secara ruhani atas salah satu wali Allah terbesar di India, Syekh Muinuddin Chisti dan karenanya menjadi rujukan bagi tarekat Chistiyyah.

Sesudah itu, pada era 1100 M tarekat mulai muncul, meski boleh dikatakan masih dalam bentuk embrio. Dua tarekat pertama yang memberi dampak luas pada anak benua India adalah Suhrawardiyyah dan Chistiyah, namun tampaknya hanya Chistiyyah yang terus dominan di negeri itu sampai sekarang. Tarekat Chistiyyah mulai mengkristal dan terkenal setelah kedatangan Syekh Muinuddin Chisti, yang hidup hampir sezaman dengan Ibn Arabi dan Maulana Rumi.

Dengan demikian, pelan-pelan akan segera muncul pusat baru Tasawuf yang akan segera dengan cepat menyebar ke seluruh India hingga ke Asia Tenggara. Kebangkitan tarekat di India akan mengawali babak baru dalam sejarah peradaban Islam belahan lain dunia Islam. Tampaknya serangan pasukan Mongol yang meluluhlantakkan Baghdad di satu sisi memberikan hikmah tersendiri, sebab pertemuan peradaban Islam dengan Mongol, dan hijrahnya para sufi ke berbagai penjuru dunia telah menyebabkan ajaran tasawuf berkembang di mana-mana. Bahkan sebagian penguasa Mongol nanti masuk Islam dan generasi penerus raja-raja Mongol akan berperan penting dalam pengembangan peradaban Islam yang baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: