SEJARAH TASAWUF #08

Membicarakan sejarah Tasawuf tidak mungkin kita mengabaikan tokoh yang luar biasa ini. Syekh Abdul Qadir al-Jailani bukan hanya memengaruhi Tasawuf, tetapi juga peradaban Islam pada umumnya. Bahkan kekuatan spiritualnya “dimanfaatkan” oleh berbagai kalangan hingga ke wilayah yang “abu-abu” secara syariat. Meski Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak menonjol sebagai penyair, namun banyak penyair sufi yang mengambil inspirasi dari ajaran-ajaran beliau. Tarekat Qadiriyyah menjadi salah satu tarekat terbesar di dunia, dan melahirkan banyak derivasi dan penggabungan dengan tarekat lain. Karenanya, di sini kita perlu melihat secara lebih dekat pada Poros Ruhani yang kemasyhurannya tak kunjung surut hingga sekarang.

Muhyiddin Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir al-Jailani adalah salah satu Wali Allah agung yang terkenal di seantero dunia Islam, yang menempati kedudukan amat tinggi, sebagai Sulthan al-Awliya al-Ghauts al-A’dham (Raja Para Wali dan Penolong Agung), Qutb al-Rabbani, pendiri Tarekat Qadiriyyah yang memiliki banyak pengikut di seluruh dunia. Ajarannya mempengaruhi banyak Wali Allah besar lainnya. Manaqib-nya (riwayat hidup) dibaca secara rutin setiap bulan di banyak tempat di dunia Islam. Salah satu ucapannya yang amat terkenal adalah “Kakiku berada di atas bahu semua Wali Allah” [qadami hadhihi ‘ala raqabati kulli waliyyin li’llah]. Menurut satu riwayat yang diceritakan oleh Syekh Abdurrahman Jami’, saat beliau mengucapkan kalimat ini, para Wali yang hadir saat itu serta merta menyerahkan bahunya untuk diinjak oleh beliau.

Sulthan al-Awliya al-Ghauts al-A’dham Qutb al-Alam Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir al-Jailani dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Nif, Irak utara, pada 470 H atau sekitar tahun 1077/1078 M. Syekh Abdul Qadir masih keturunan dari Rasulullah Muhammad SAW dari jalur Imam Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib. Ayahnya adalah Abu Salih Abdullah ibn Jangi Dost; ibundanya adalah Umm al-Khair Amat al-Jabbar Fatimah binti Abdullah al-Sawma’i al-Husaini al-Zahid, seorang wanita salihah. Diceritakan bahwa beliau mengatakan, “Setelah putraku Abdul Qadir lahir, ia tak mau menyusu selama bulan Ramadhan.” Ibundanya mengandung Syekh Abdul Qadir saat beliau sudah berusia 60 tahun.

Setelah mendapat pendidikan agama dari keluarga dan ulama di daerahnya, beliau pergike Baghdad, yang waktu itu merupakan pusat kegiatan intelektual dan keagamaan. Ibundanya membekalinya dengan 40 keping emas yang disembunyikan dengan dijahit di jubahnya. Ibunya berpesan agar Syekh Abdul Qadir selalu jujur dan berbuat benar. Dalam perjalanan beliau dihadang perampok, dan salah seorang dari mereka bertanya apakah beliau menyimpan sesuatu yang berharga. Syekh Abdul Qadir menunjukkan dimana uang emas itu disembunyikannya. Melihat kejujurannya, para perampok itu pun bertobat dan menjadi murid-murid pertamanya.

Ketika hendak masuk ke kota Baghdad, beliau dihadang oleh Nabi Khidir yang mengatakan bahwa dirinya diperintahkan untuk tidak mengizinkan Syekh Abdul Qadir masuk Baghdad selama tujuh tahun berikutnya. Karenanya, Syekh Abdul Qadir tinggal di tepi Sungai Tigris selama tujuh tahun, hidup dalam kemiskinan, hanya makan sayur-sayuran yang halal dan bisa dimakan. Kemudian beliau menuju ke zawiyyah milik Syekh Hammad ibn Muslim al-Dabbas. Namun Syekh al-Dabbas menutup pintu zawiyyah sehingga Syekh Abdul Qadir hanya bisa duduk di depan pintu. Syekh Abdul Qadir akhirnya tertidur dan mimpi basah. Beliau bangun untuk mandi wajib. Tetapi kemudian beliau tertidur lagi, dan mimpi basah lagi, dan beliau mandi wajib lagi. Hal ini terulang sampai 70 kali. Akhirnya saat fajar tiba, pintu Zawiyyah dibuka dan Syekh Abdul Qadir diizinkan masuk dan menjadi murid Syekh al-Dabbas.

Selama di Baghdad beliau tak kenal lelah menuntut ilmu, menemui para ulama besar yang alim, untuk mempelajari ilmu fiqh, tafsir, dan sebagainya. Beliau kemudian menganut mazhab Hanbali, tetapi beliau juga menguasai tiga mazhab utama lainnya. Di antara guru-guru beliau adalah Qadhi Abu Sa’id Mubarak al-Mukharrimi, Abu Zakariyya Yahya ibn Ali al-Tabrizi, Abu Ghalib Muhammad ibn al-Hasan al-Baqilani, Abu Sa’id Muhammad ibn Abd al-Karim ibn Khashisha, Abu Bakar Ahmad ibn al-Muzaffarm Abu Ja’far ibn Ahmad ibn al-Husain al-Qari as-Sarraj, dan masih banyak lagi.

Dari Syekh Hammad ibn ad-Dabbas beliau mendapat pendidikan spiritual yang ketat. Syekh Abdul Qadir juga mendapat pengajaran mistis dan khirqah dari Qadhi Abu Sa’id al-Mubarak al-Mukharrimi. Khirqah ini berasal dari guru al-Mukharrimi yakni Syekh Abu Hasan Ali ibn Muhammad al-Qurashi, yang menerima dari Abu al-Faraj al-Tarsusi, yang menerima dari Abu al-Fadl Abd al-Wahid al-Tamimi, yang menerima dari Abu Bakar Shibli, yang menerima dari ABU QASIM AL-JUNAID AL-BAGHDAD, yang menerima dari pamannya SARI AL-SAQATI, yang menerima dari Syekh MA’RUF AL-KHARKI, yang menerima dari DAWUD AL-TA’I, yang menerima dari HABIB AL-AJAMI, yang menerima dari Syekh HASAN AL-BASRI, yang menerima dari Amir al-Mu’minin Ali ibn Abi Thalib, yang menerima dari Rasulullah SAW.

Syekh Abdul Qadir Jilani menjalani riyadhah dan mujahadah yang luar biasa selama bertahun-tahun. Beliau berkhalwat selama 11 tahun di reruntuhan bangunan di luar kota Baghdad. Beliau sendiri pernah mengisahkan bahwa beliau mengembara di gurun pasir di kawasan Irak selama 25 tahun, tidak bertemu dengan manusia. Yang menemuinya hanyalah para rijal al-ghaib, para Wali Allah yang tersembunyi dan para jin. Beliau juga ditemani oleh Nabi Khidir dan tak pernah membantah perintah dari Nabi Khidir. Beliau pernah diperintahkan duduk di suatu tempat selama tiga tahun dan tak boleh berpindah tempat, dan beliaupun patuh. Selama duduk ini beliau didatangi oleh godaan seluruh kemewahan dan pesona dari dunia, dengan berbagai macam bentuk, namun berkat pertolongan Allah beliau berhasil mengatasi ujian ini. Iblis dan setanpun berdatangan untuk mengganggunya, namun tak satupun yang berhasil. Beliau memakan sisa-sisa makanan selama setahun tanpa minum, kemudian belaiu minum air saja selama setahun tanpa makan, dan setahun lagi hidup tanpa makan, minum atau tidur. Tetapi beliau pernah sekali tertidur di Serambi Kisra (Iwan al-Kisra) dan pada satu malam itu beliau menjadi berhadas besar 40 kali dan karenanya sepanjang malam itu beliau pun mandi di Sungai Tigris sebanyak 40 kali. Karena takut tertidur lagi, beliau pun memanjat atas serambi Kisra dan terus terjaga. Beliau juga tinggal di reruntuhan al-Karkh dan bahkan oleh orang awam beliau dianggap sebagai orang gila (junun). Selama periode latihan ini beliau terus beribadah tanpa henti-henti dan tak mengizinkan hawa nafsunya menguasai dirinya. Selama khalwat ini beliau tanpa sadar telah menempuh ribuan kilometer dalam waktu singkat. Beliau mengalami ribuan keadaan spiritual. Keadaan spiritual itu (ahwal) dialaminya secara tak terduga. Beliau sendiri menceritakan, “Suatu ketika suatu aku mengalami keadaan spiritual (hal) saat aku berada di daerah Baghdad. Aku lari selama satu jam tanpa sadar. Saat aku sadar, aku berada di Shashtar, yang jaraknya dua belas hari perjalanan dengan jalan kaki. Saat berada di sana aku merenungkan keadaanku, dan tiba-tiba seorang perempuan mendatangiku dan berkata, “Mengapa engkau heran padahal engkau adalah Abdul Qadir?”

Beliau juga menceritakan sendiri bahwa beliau pernah berada dalam keterasingan penuh selama 15 tahun di gurun pasir Irak. Selama 40 tahun beliau melakukan shalat subuh dengan wudhu shalat Isya, yang berarti beliau beribadah sepanjang malam sampai subuh. Setelah shalat Isya beliau biasa mengkhatamkan al-Qur’an sambil berdiri dengan satu kaki dan tangan diikat di tiang agar tidak tertidur – dan khatam pada saat fajar merekah.

Beliau juga sering harus berkelahi dengan setan dan iblis selama masa khalwatnya. Beliau pernah diserang oleh gerombolan setan dengan berbagai bentuk yang menyeramkan. Beliau pernah diikuti oleh setan yang mengancamnya. Tetapi beliau kemudian menamparnya dan mengucapkan kalimat la hawla wala quwwata illa billahil aliyyil adhim dan setan itu pun terbakar. Iblis pernah mencoba menipunya dengan mendatanginya dalam bentuk cahaya terang dan mengaku sebagai Tuhan dan mengatakan bahwa Syekh Abdul Qadir bebas melakukan apa saja karena dengan kedudukan spiritualnya yang tinggi maka syari’at sudah tak berlaku baginya. Syekh Abdul Qadir dengan segera melempar iblis itu dengan sandal dan mengusirnya. Beliau juga mendapat anugerah melihat isi batinnya sendiri dalam suatu bentuk. Beliau pernah melihat hatinya masih tergantung pada beberapa hal. Beliau kemudian diberi tahu bahwa hal-hal yang menjeratnya itu adalah kehendak pribadi (iradat) dan preferensi personal (ikhtiyarat). Karenanya beliau mencurahkan waktu selama setahun untuk mengatasi gangguan ini. Beliau pernah berniat meninggalkan kota Baghdad karena merasa terlalu banyak godaan. Tetapi saat sampai di Bab al-Halba beliau mendengar suara yang melarangnya pergi, dan mengatakan bahwa beliau akan menjadi pemimpin umat di kota itu.

Suatu ketika beliau berjumpa dengan Rasulullah pada waktu Zuhur. Rasul bertanya kepadanya mengapa beliau tidak bicara ke khalayak. Syekh Abdul Qadir menjawab bahwa dirinya bukan orang Arab, jadi bagaimana mungkin bisa bicara bahasa Arab dengan fasih di Baghdad. Kemudian Rasulullah menyuruh Syekh Abdul Qadir membuka mulutnya, lalu Rasul meludah ke mulutnya sebanyak tujuh kali. Kemudian Rasulullah berkata, “Engkau harus berdakwah kepada umat dan mengajak mereka ke Jalan Allah dengan cara bijak dan dengan nasihat yang baik.” Kemudian beliau shalat zuhur bersama beberapa orang, namun seusai shalat beliau tidak bisa bicara. Tiba-tiba beliau melihat Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, yang juga menyuruhnya membuka mulut. Sayyidina Ali kemudian meludah ke mulutnya sebanayk enam kali. Ketika Syekh Abdul Qadir bertanya mengapa tidak tujuh kali, Sayyidina Ali menjawab, “Demi menghormati Rasulullah,” lalu Sayyidina Ali menghilang.

Setelah itu beliau mulai menjalankan tugas di tengah-tengah umat. Khutbahnya menarik banyak perhatian, dan jamaahnya pun terus bertambah seiring dengan makin tenarnya reputasi Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Orang-orang dari Mesir, Mesopotamia, Persia dan wilayah lain datang berduyun-duyun ke majelisnya. Dalam satu kesempatan konon beliau pernah berkhutbah di depan 70,000 orang. Beliau menyampaikan khutbah tiga kali seminggu – hari Selasa sore dan Jum’at pagi di madrasahnya, dan hari Ahad (Minggu) di ribathnya (pondok spiritual). Bahkan penganut Yahudi dan Kristen pun ikut mengikuti pengajiannya dan banyak dari mereka yang tersentuh dan akhirnya masuk Islam. Selama hidupnya beliau terus mengajar dan berkhutbah selama 40 tahun (521-561 H atau 1127-1165 M). Beliau menikah pada usia 51 tahun dan dikaruniai 49 anak.

Ajaran Syekh Abdul Qadir berakar pada pemahaman dan pengalaman spiritualnya. Kehidupan ruhani yang baik tidak akan tercapai tanpa perjuangan melawan hawa nafsu dan menjalankan syariat. Secara umum ajaran-ajarannya adalah mengajak orang untuk memurnikan akidah, bertakwa dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW sebisa mungkin. Kehidupan yang mulia adalah hidup dalam ketakwaan. Beliau mengajak umat untuk senantiasa bertaubat, zuhud, jujur, tawakal, syukur dan ridha atas ketentuan Tuhan. Murid harus selalu waspada dengan apa-apa yang terbersit di pikirannya (khatirat) karena itu akan sangat mempengaruhi kemajuan ruhaninya.

Beliau berpendapat bahwa khatirat (lintasan pikiran) berasal dari enam sumber: hawa nafsu, setan, ruh, malaikat, akal dan keyakinan. Untuk membedakan sumber-sumber pikiran itu diperlukan bashirah (visi spiritual) yang hanya bisa dicapai dengan mensucikan jiwa dan hati. Kemajuan seseorang di jalan spiritual sebagian besar tergantung pada sejauh mana visi spiritualnya mampu menelaah dan membedakan sumber-sumber pikiran yang terbersit di benaknya. Untuk itu beliau mengajarkan 10 prinsip yang bisa membantu seseorang dalam perjalanan ruhaninya: (1) tidak membicarakan aib orang lain; (2) tidak berprasangka buruk; (3) tidak bergunjing; (4) tidak memandang hal-hal yang dilarang; (5) selalu berkata benar; (6) selalu bersyukur; (7) banyak bersedekah; (8) tidak mengejar harta dan tahta duniawi; (9) selalu melaksanakan kewajiban shalat dan ibadah lainnya, baik wajib maupun sunnah; dan (10) mengikuti sunnah Nabi dan menjalin silaturahmi.

Menurut beliau, untuk mencapai kedudukan ruhani yang tinggi, seseorang harus melewati empat tahap spiritual. Pertama adalah yakin kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya dengan baik. Kedua adalah berada di ambang kesucian hati dengan menahan diri dari segala hal yang dilarang dan mewaspadai lintasan-lintasan pikiran (khatirat). Ketiga adalah keadaan tawakal, yakni berserah diri sepenuhnya kepada Allah. dan terakhir adalah fana, yang kemudian sampai pada baqa. Pada akhirnya setelah melalui perjuangan spiritual ini, seseorang akan melihat Kekuasaan dan Keindahan Tuhan.

Mengenai pendapatnya tentang peran syekh atau guru spiritual, beliau membandingkan syekh spiritual dengan seorang ibu yang memberi susu kepada bayinya. Syekh dibutuhkan selama murid masih dikuasai oleh hawa nafsu dan niat yang tidak ikhlas. Jika ia sudah berhasil melampaui hasrat yang buruk, maka peran syekh akan semakin berkurang. Ada saat di mana syekh mesti “menyapih” muridnya. Dalam tarekatnya, peran Syekh Mursyid adalah vital, karena dialah yang akan membimbing amalan murid-murid untuk menggapai ma’rifat.

Tarekat Qadiriyyah sebenarnya “diorganisasikan” oleh putranya, Abdul Wahab dan Abdul Razaq. Sebagaimana tarekat pada umumnya, amalan utamanya adalah zikir, terutama zikir jahr (dengan suara keras) dengan kalimat nafy-itsbat (la ilaha illa Allah). Ada kaifiyyat (tata-cara) tertentu dalam melaksanakan zikir ini – misalnya dengan mengucapkan laa sambil membayangkan sebuah garis yang ditarik dari bawah pusar, kemudian ilaha sambil membayangkan menarik garis imajiner ke dada kanan dan akhirnya illa Allah dengan membayangkan garis imajiner menuju ke dada sebelah kiri, di mana kata “Allah” diucapkan dengan keras seolah-olah hendak dihujamkan ke lubuk hati yang paling dalam, tempat di mana Allah bersemayam. Zikir ini dapat dilakukan secara berjamaah atau sendiri-sendiri.

Bagi para ikhwan tarekat, kisah karamah Syekh Abdul Qadir al-Jailani sudah tak asing lagi dan karamah yang muncul sangatlah banyak sehingga membutuhkan satu buku tersendiri untuk menceritakan semuanya. Berikut sedikit contoh kisah karamahnya. Alkisah, suatu hari, saat beliau sedang berkhutbah di majelisnya, tiba-tiba beliau melayang ke atas dan berseru “Ya Isra’ili, mampir dan dengarlah perkataan umat Muhammad!” Kemudian Syekh Abdul Qadir turun kembali ke tempat semula. Ketika kemudian ditanya apa yang sedang terjadi, beliau menjawab bahwa Nabi Khidir sedang terbang di atas majelis, dan karenanya beliau terbang ke atas untuk mengajaknya mengikuti pengajiannya. Dalam kisah lain, Syekh Abdul Qadir terlihat berjalan di atas air sungai Tigris, dan dari air muncul ikan-ikan yang memberinya salam. Pada waktu zuhur tiba, tiba-tiba di atas sungai melayang sebuah sajadah besar berwarna hijau yang dihiasai emas dan permata. Lalu muncul sekelompok ksatria yang berpenampilan gagah dan tampan dan memancarkan kedamaian. Kemudian Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjadi imam bagi mereka semua di atas sajadah raksasa yang melayang di udara itu. Beliau juga pernah menjamu empat pemimpin Gunung Qaf, sebuah wilayah gaib. Bahkan seorang muridnya pernah melihatnya memberi salam kepada rijal al-ghaib dari selepas Isya sampai Subuh, yang menunjukkan tamu-tamunya dari alam gaib sangatlah banyak. Beliau bahkan bisa berbicara dengan “wujud” dari hari, bulan dan tahun – hari atau bulan akan datang kepada beliau dalam bemtuk wujud dan menceritakan semua hal yang akan terjadi pada hari atau bulan yang datang kepada beliau. Dan masih banyak lagi kisah karamahnya, seperti menghidupkan hewan yang mati, menolong orang yang berada di tempat yang jauh, memindahkan takdir manusia ke dalam mimpinya, terbang, melipat jarak dan waktu, mengubah benda menjadi benda lain, dan sebagainya.

Kekuatan dan berkah spiritualnya juga dahsyat, dan juga dikaruniai keistimewaan untuk memberi syafaat. Seorang muridnya mampu melihat keadaan seluruh penghuni kuburan dan alam malaikat, mendengar zikir dengan bermacam-macam bahasa, melihat tulisan-tulisan yang tertera di dahi manusia, berkat barakah spiritual Syekh Abdul Qadir. Barakahnya juga dicari-cari oleh orang-orang yang mempelajari ilmu kesaktian, seperti ilmu kebal. Beliau pernah berkata, “Tuhanku Yang Maha Kuasa telah menjanjikan kepadaku bahwa Dia akan mengangkat siksa atas semua orang Muslim yang pernah melewati pintu madrasahku.”

Ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani melontarkan ucapan khawariq “Kakiku berada di atas bahu para Wali Allah,” para hadirin, yang terdiri dari para Syekh Wali Allah dari Irak dengan serta merta mendekat kepada Syekh Abdul Qadir untuk diinjak oleh beliau. Di antara yang hadir itu antara lain: Syekh Ali ibn al-Haiti; Syekh Baqa ibn Batu; Syekh Abu Sa’id al-Qilawi; Syekh Musa ibn Mahin (Mahan); Syekh ABU NAJIB AS-SUHRAWARDI; Syekh Abu al-Karam; Syekh Abu Umar wa Utsman al-Qurashi; Syekh Mukarim al-Akbar; Syekh Matir; Syekh Jagir; Syekh Khalifa; Syekh Sadaqa; Syekh Yahya al-Murta’ish’ Syekh adz-dziya Ibrahim al-Jawni; Syekh Abu Abdillah Muhammad al-Qawzini; Syekh Abu Umar wa Utsman al-Bataihi; Syekh Qadib al-Ban; Syekh Abu al-Abbas Ahmad al-Yamani; Syekh Abu al-Abbas ash-Shawki (Wali Allah yang terkenal karena biasa melakukan perjalanan dengan kendaraan gaib); Syekh Sultan al-Muzayyin; Syekh Abu Bakr ash-Shaibani; Syekh Abu Abbas Ahmad ibn al-Ustadh; Syekh Abu Muhammad al-Kawsaj; Syekh Mubarak al-Humairi; Syekh Abu al-Barakat; Syekh Jamil Sahib al-Khatwa wa az-Zaqa’; Syekh al-Qadi Abu Ya’la al-Farra’; dan masih banyak lagi. Menurut keterangan, setelah Syekh Abdul Qadir mengucapkan perkataan itu, Syekh Ali ibn al-Hiti langsung berdiri lalu naik ke mimbar tempat Syekh Abdul Qadir duduk, lalu beliau memegang kaki Syekh Abdul Qadir, meletakkannya di pundaknya, dan kepalanya tunduk di bawah kelim jubahnya. Semua syekh yang hadir mengikuti tindakan itu.

Sezaman dengan Syekh Abdul Qadir, dii wilayah Barat juga ada wali besar, Syekh Abu Madyan (yg juga guru ruhani Syekh Akbar Ibn Arabi al-Hatimi, pencetus gagasan wahdat al-wujud). Sebagian berpendapat bahwa pada masa itu ada dua wali besar yang tak tertandingi, Syekh Abdul Qadir di Timur, dan Syekh ABu Madyan di Barat. Namun dalam salah satu riwayat dalam tradisi Qadiriyyah, dikatakan bahwa Syekh Abu Madyan pada awalnya tidak begitu peduli dengan ucapan syatahat itu, namun dalam suatu keadaan mistis beliau mendapat ilham agar memberikan bahunya untuk diinjak oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Menurut keterangan beberapa ulama, perkataan Syekh Abdul Qadir itu menunjukkan pernyataan tegas atas maqam keunikan (fardiyya). Di antara kelompok Wali semacam ini, hanya Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang diperintahkan oleh Allah untuk mengucapkan perkataan itu. Karenanya, para syekh sesungguhnya tidak sujud kepada sosok Syekh Abdul Qadir tetapi bersujud dan patuh pada “Perintah Ilahi” itu. Hal ini sama seperti kasus malaikat yang diperintahkan bersujud kepada Nabi Adam.
Menurut Syekh Syihabuddin Ibn Hajar al-Asqalani, “Kejadian khawariq al-adah (karamah, ucapan syathahat, dan keajaiban-keajaiban di luar rasio dan hukum sebab-akibat) benar-benar bisa dialami oleh manusia. Ini adalah kenyataan, dan hanya orang yang bodoh dan keras kepala yang mengingkarinya. Para Wali Allah agung sudah menjelaskan kriteria untuk membedakan kejadian ajaib yang bersumber dari Allah dan yang bersumber dari Iblis. Jika kejadian semacam ini terjadi pada seseorang yang jelas lurus agamanya, maka ia disebut karamah, seperti dalam kasus Syekh Abdul Qadir al-Jailani.”

Tarekat Qadiriyyah yang didirikannya segera menyebar ke segala penjuru dunia. Banyak murid-murid Syekh Abdul Qadir yang menduduki maqam spiritual yg tinggi dan menjadi mursyid di berbagai penjuru dunia Islam, dari Baghdad, wilayah Transoxania, India, hingga ke Asia Tengah dan Asia Tenggara…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: