SEJARAH TASAWUF #06

Yg sezaman dengan as-Sarraj adalah al-Kalabadzi (wafat di Bukhara, 990 M). Salah satu karyanya yang masih tersisa adalah Ta’aruf li madhab ahl al-tashawuf). Kitab ini berusaha menjembatani pandangan syariat dan tasawuf. KItab ta’aruf dalam konteks kajian kesufian merupakan salah satu sumber penting bagi orang-orang di dalam lingkaran sufi maupun di luar lingkaran sufi yg ingin mempelajari Tasawuf secara akademis. Di dalamnya mulai dibahas secara lebih mendalam, yg sebagian bersifat agak filosofis, tentang istilah-istilah sufi.

Tokoh selanjutnya yang masyhur dalam penulisan kitab Tasawuf dan karyanya diakui secara luas baik oleh kalangan sufi maupun bukan adalah Abu Thalib al-Makki. Kitab Qut al-Qulub (Santapan Qalbu) adalah masterpiece-nya. Kitab ini berpengaruh besar bagi penulisan kitab-kitab tasawuf selanjutnya, dan bahkan Imam Abu Hamid al-Ghazali banyak merujuk kepada kitab ini saat menulis Ihya Ulumuddin. Selain kitab-kitab tentang ajaran, bermunculan pula hagiografi atau kitab tentang riwayat tokoh sufi. Salah satu karya awal di genre ini adalah Tabaqat as-Shufiyya karya Imam Sulami, kemudian kitab Hilyat al-Awliya karya Imam Nu’aym al-Isfahani.

Hilyat al-Awliya ini seperti gudang penjelasan mengenai orang-orang arif billah. Sementara itu, Tabaqat kiarya Sulami belakangan diperluas lagi oleh Abdullah al-Anshari dari Herat, dan kemudian dikembangkan lagi oleh Maulana Jami dalam kitab Nafahat al-Uns.Setengah Abad setelah Sulami, muncul kitab Tasawuf tertua dalam bahasa Persia, karya Syekh Hujwiri yang berjudul Kasyful Mahjub, sebuah kitab luar biasa yang menguraikan sejarah tasawuf, doktrin sufi, konsep-konsep sufi, hingga ke makna batin dari berbagai konsep syariah. Karya al-Hujwiri sangat memengaruhi karya-karya Sufi di daerah Persia dan anak benua India, terutama di kalangan sufi dari tarekat Chistiyyah kelak di abad 14-15 M.

Salah satu murid Imam Sulami yang termasyhur adalah Abu Said ibn abi al-Khair, yang disebut-sebut sebagai “Bapak Tarekat” pertama, karena beliaulah yang secara sistematis pertama kalinya menyusun aturan dan adab di jalan ruhani dan beliau sendiri berfungsi sebagai Mursyid yg kemudian sedikit bertransformasi menjadi konsep kemursyidan dalam tarekat-tarekat besar yang muncul belakangan. Abu Said ibn abi al-Khair ini juga dikenal sebagai penyair mistik, usianya tepat mencapai 1000 bulan. ABu said al-Khair bersahabt dengan salah satu tokoh sufi terkenal, Imam Qushairi. Imam Qushairi adalah penerus dari tradisi keilmuan Imam Sulami. Imam Qushairi sendiri adalah menantu dari guru sufi agung yang jadzab, Abu Ali al-Daqqaq. Karya Qushairi, lebih dikenal dengan judul ringkas Risalah al-Qushairiyyah, menguraikan ajaran dan amalan Sufi dalam kerangka teoilogi Asy’ariah. Kitab Risalah Qushairiyyah ini adalah yg paling banyak dibaca, dan kadang kitab ini disejajarkan dengan al-Luma’ karya as-Sarraj. Selain menulis Risalah yg panjang, Qushairi juga menulis beberapa risalah pendek, yg menggambarkan pengalaman mistisnya, dan hakikat shalat, dan beliau termasuk yg pertama kali membagi struktur jiwa manusia: hati (qalb), ruh dan sir. Hampir sezaman dengan mereka, muncul sufi petani buta huruf, yakni al-Kharaqani, yg mendapat bimbingan secara barzakhi dari Abu Yazid al-Bisthami. Salah satu murid al-Kharaqani yang termasyhuur adalah Abdullah Anshari dari Herat (Afghanistan)

Syekh Anshari ini sempat terkena fitnah ketika kekuasaan Bani Seljuk bangkit di Iran Timur, namun kemudian beliau dipanggil kembali oleh Sultan untuk menjadi khotib negara. Salah satu karyanya yang terpenting adalah Manazil Sairin (Persinggahan di sepanjang jalan). Selama Anshari masih dikejar-kejar oleh tentara Bani Seljuk ini, di belahan lain sedang terjadi transformasi dahsyat dari seorang ulama dan cendekiawan muslim yang sangat masyhur, sebuah transformasi yg membuatnya berubah menjadi Sufi Agung sepanjang zaman, dan hampir mengubah sebagian lanskap dunia keruhanian Islam. Beliau adalah Imam ABU HAMID AL-GHAZALI.

Semua orang Islam hampir bisa dipastikan pernah mendengar nama Imam al-Ghazali dan kitab Ihya Ulumudiin. Dan kebanyakan lebih mengenalnya sebagai sufi meskipun sebelum benar-benar terjun ke dunia Sufi, Imam Ghazali telah terkenal sebagai ahli ilmu fiqh, kalam, filsafat. Beliau adalah profesor di semacam “universitas” yang bergengsi di Baghdad, di masa kekuasaan Nizam al-Mulk. Madrasah yg dipimpin oleh Imam al-Ghazali ini mendidik para ahli dakwah dan ilmu kalam. Madrasah ini terbukti menjadi prototipe bagi madrasah-madrasah yang kemudian berkembang di dunia Islam.

Perpindahan Imam al-Ghazali ke dunia sufi disebabkan oleh banyak hal: ketidakpuasan dan kegelisahan intelektual, dan perasaan kekeringan spiritual walau telah memiliki begitu banyak ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Imam al-Ghazali, yg juga murid ulama termasyhur Imam Juwaini (Imam al-Haramayn), mengalami krisis spiritual yg akut. Dan titik balik peralihannya ke dunia sufi justru lantaran “teguran” dari adiknya, Ahmad al-GHazali yang lebih dahulu masuk ke dunia Tasawuf.

Syekh Ahmad al-Ghazali lebih suka berkhalwat dan menyendiri, dan menulis syair-syair cinta ilahi. Ketika sang kakak diterpa oleh penyakit skeptisisme yang akut, yang menyebabkannya sakit dan tak mampu memberikan kuliah di Madrasah Nizamiyah Baghdad, Syekh Ahmad Ghazali datang untuk menggantikan posisi kakaknya, sementara Imam al-Ghazali sendiri pergi meninggalkan jabatan dan keluarganya untuk terjun ke dunia sufi secara intensif.

Walaupun tidak setenar kakaknya, Syekh Ahmad al-Ghazali sangat populer di Baghdad. Pengaruhnya dapat dijumpai dalam karya-karya penyair sufi seperti al-Syrazi dan Hafidz. Kebersamaan Syekh Ahmad al-Ghazali bersama muridnya, Syekh AYN AL-QUDAT AL-HAMADZANI, yang hanya berlangsung 20 hari, mampu mengubah diri Syekh Ayn Qudhat al-Hamadzani menjadi sufi paripurna. Murid lain dari Syekh Ahmad al-Ghazali yang juga termasyhur adalah Syekh Abd al-Qahir Abu Najib al-Suhrawardi, paman pendiri tarekat Suhrawardiyyah. Syekh Ahmad al-Ghazali meninggal sekitar tahun 1126 di Qawzin.

Syekh Ahmad al-Ghazali menyusun sejumlah risalah mistik, tak kurang dari tujuh kitab. Salah satunya adalah risalah mengenai sama’ yang berjudul Bawariq al-Ilma fi al-Rad ‘ala man Yuharrim al-Sama’ bi al-Ijma” (Kilauan Cahaya Terang dalam Menolak Orang yang Mengharamkan Musik melalui Ijma’). Menurutnya, salah satu faedah sama’ adalah dapat mengantar sufi ke derajat al-kummal al-iyani, derajat yang tidak bisa dicapai hanya melalui riyadhah saja. Al-sama’ juga dikatakan menghimpun beberapa kondisi spiritual (ahwal) yang sempurna, yakni puncak maqamat. Kata sama’ terdiri dari huruf sin dan mim, yang menurut Syekh Ahmad al-Ghazali mengisyaratkan makna al-sammu (racun), dan karenanya sama’ adalah ibarat racun yang mematikan seseorang dari ketergantungannya kepada selain Allah, sekaligus mengantarkannya ke tingkatan ghaib (maqamat al-ghaibiyyah). Selain itu, sin dan mim juga membentuk kata al-sama yang berarti “langit” yang berarti musik sama’ bisa mengantar kepada ketinggian martabat. Sedangkan huruf mim dan ain mengisyaratkan kata ma’a (kebersamaan), sebab sufi yang melakukan sama’ akan sampai ke derajat kebersamaan dengan Tuhannya (al-ma’iyyah al-dzatiyah al-ilahiyah).

Kitab lain yang terkenal adalah Sawanih, “Pepatah Tentang Kekasih,” yang mengukuhkannya sebagai ahli mistik besar di dunia Islam. Ahmad al-Ghazali dalam kitab ini berbicara tentang rahasia hubungan timbal-balik antara kekasih dan yang dikasihi, seperti cermin. Syekh Ahmad al-Ghazali menyentuh rahasia penderitaan dalam kekasih, harapannya dalam keputusasaan, dan rahasia rahmat Tuhan yang tak terperikan. Hadits qudsi yang dikutipnya adalah “Kebijaksanaan di dalam tindakan-Ku menciptakan engkau adalah untuk melihat bayangan-Ku dalam cermin jiwamu, cinta-Ku dalam hatimu.”

Salah satu karamahnya yang paling masyhur dan memberi kontribusi pada perubahan hidup kakaknya adalah sebagaimana kisah berikut. Suatu ketika Imam al-Ghazali menjadi imam di masjidnya, sementara Syekh Ahmad al-Ghazali tidak mau menjadi makmumnya. Karenanya Imam al-Ghazali meminta kepada ibunya agar menyuruh sang adik itu mau menjadi makmum agar Imam al-Ghazali tidak terkena tuduhan buruk dari masyarakat. Setelah mendapat perintah dari ibunya, maka Syekh Ahmad al-Ghazali pun bersedia menjadi makmum. Namun di tengah-tengah shalat Syekh Ahmad al-Ghazali memisahkan diri dan melakukan shalat sendirian (munfarid). Selesai shalat Imam al-Ghazali bertanya kepada adiknya mengapa ia memisahkan diri. Syekh Ahmad al-Ghazali menjawab bahwa beliau melihat perut Imam al-Ghazali penuh darah. Imam al-Ghazali pun mengaku bahwa saat shalat, dirinya berpikir tentang penulisan persoalan darah haid.

“Teguran mistis” inilah yang menurut sebagian penulis hagiografi menyebabkan Imam Abu Hamid al-Ghazali bertekad bulat menempuh suluk dengan mengembara ke padang pasir dan berbagai negeri untuk mempelajari Tasawuf. Melalui teguran itu beliau menyadari satu hal penting, seperti yang ditulisnya sendiri dalam karya biografisnya, Munqidz minat al-dalal,” Pengetahuan lebih mudah ketimbang amal. Aku mengawali dengan banyak membaca buku dan mendapatkan pemahaman intelektual yg menyeluruh tentang prinsip-prinsip ilmu. Namun kemudian aku menyadari bahwa yang paling penting dan utama dari prinsip-prinsip itu hanya bisa direngkuh melalui pengalaman, zawq dan perubahan watak (tazkiyatun nafs).”

Dari pengembaraan dan ketekunannya di jalan ruhani inilah lahir kitab monumental, Ihya Ulumuddin. Karya ini terdiri dari 40 Bab. Jika kita baca dengan teliti, kita bisa melihat bahwa dalam karyanya ini Imam Abu Hamid al-Ghazali secara tersirat menunjukkan bahwa jika seseorang mengamalkan syariat dan tasawuf dengan benar, maka perjalanannya menuju Tuhan adalah seperti perjalanan tiada akhir di mana setiap kali salik naik ke posisi yg lebih tinggi ia akan selalu menemukan kedalaman makna syariat yang selalu baru dan berbeda.

Salah satu karya mistis al-Ghazali yg paling sulit, tetapi sangat memengaruhi tradisi filsafat-cahaya adalah Misykat al-Anwar. Tafsirnya atas ayat cahaya (Allahu nurussamawati dst ..) begitu mendalam dan pelik. Ini adalah karya metafisika cahaya yang sangat canggih. Belakangan, sekitar setengah abad setelah wafatnya Imam al-Ghazali, pandangan mistis tentang ayat cahaya ini dielaborasi secara mendalam oleh salah satu Guru Sufi yg dikenal sebagai Syekh al-Israq Suhrawardi al-Maqtul.

Pengaruh Imam al-Ghazali dan ajarannya tak diragukan lagi, sehingga sebagian sufi generasi berikutnya mengaku mereka mengikuti Tarekat Ghazaliyah, meski Imam al-Ghazali sendiri tidak secara formal membentuk sebuah organisasi tarekat. Namun sebagian sejarawan berpendapat ada sisi buruk dari popularitasnya: Kebesaran Imam al-Ghazali yg luar biasa, dimana serangannya pada ilmu filsafat sangat berpengaruh pada zamannya membuat umat ISlam selama beberapa puluh tahun tak mengkaji ilmu filsafat secara serius yg menyebabkan potensi kritis akal terhambat. Untungnya, sebelum akhirnya muncul sanggahan yang seimbang dari ahli filsafat Islam terbesar, Ibn Rushd, tradisi filsafat tetap dihidupkan dalam lingkaran sufi Persia, melalui “guru cahaya” Suhrawardi al-Maqtul.

Banyak tokoh luar biasa yg dipengaruhi oleh kitab Ihya, salah satunya yg pantas disebut karena ikut mewarnai tradisi Tasawuf yg begitu luas ini adalah Ayn Qudhat al-Hamadzani, murid dari AHmad al-Ghazali. Ajaran Ayn Qudhat merupakan salah satu ajaran yg kelak mewarnai perkembangan Tasawuf yg bercorak lain, di anak benua India. Beliau terutama memengaruhi guru-guru sufi di kalangan Tarekat Chistiyyah. Siapakah SYekh Ayn al-Qudhat yang meski hidupnya singkat namun ikut memberi warna dalam sejarah Tasawuf di kawasan anak benua India dan Asia Tengah ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: