SEJARAH TASAWUF #05

Meski jazadnya telah hancur, namun warisannya seolah kekal. Syekh al-Hallaj meninggalkan beberapa karya. Karyanya yang paling utama adalah kitab Ta Sin al-Azal (Tawasin). Dalam karya ini dikisahkan Iblis melakukan pembelaan diri sebagai monoteis murni, yang mengakui transendensi (tanzih) Tuhan dengan menolak bersujud kepada manusia yang merupakan makhluk ciptaan yang rendah dan tidak bersih. Karena itu si Iblis ini menjadi pecinta mistik yang utama yang menjadi saksi kemahakuasaan Tuhan yang tak bisa dipahami, tetapi pada saat yang sama, karena penalarannya yang ekstrim tentang Tuhan sebagai Ide Murni, tidak bisa bersikap rendah hati, sebuah sikap yang dibutuhkan untuk mengakui realitas kreativitas Tuhan. Dalam monolog Syekh al-Hallaj yang halus ini Iblis menandai batas kesombongan spiritual mistikus dan berani melewatinya dengan menjustifikasi pembangkangannya kepada Tuhan yang membawanya kepada nasib yang tragis. Karya ini adalah semacam esai dalam bentuk fiksi, dan sebuah karya yang kaya akan pandangan mistisisme yang mendalam. Karya ini menunjukkan pengetahuan psikologi religius pengarangnya yang jauh lebih mendalam ketimbang para ahli lain di bidang mistisisme atau psikologi. Iblis adalah saksi negatif dari Kesatuan Yang Maha Esa. Iblis hanya mengakui cinta, dan cintanya kepada Tuhan lebih murni dan tegas ketimbang manusia. Karena itu menurut Syekh al-Hallaj, Iblis adalah guru cinta kontemplatif, meskipun dia juga tokoh yang bernasib tragis karena kekeliruannya yang fatal. Setan dalam karya Syekh al-Hallaj adalah tokoh yang menyendiri yang tidak punya sahabat selain Tuhan. Iblis menyampaikan pesan yang sangat halus kepada para manusia agar percaya bahwa mereka tidak pernah bisa menggapai hadirat Ilahi, apalagi menyatu dengan-Nya, sebab manusia kedudukannya lebih rendah. Keadaan sesungguhnya dari manusia adalah terpisah dari Tuhan dan berada dalam kesendirian yang menyedihkan , sebuah keadaan yang paling ditakuti sehingga dalam sajak-sajaknya Hallaj sering menulis tentang perpisahan dan keterasingan yang kemudian diikuti oleh momen penyatuan dengan Sang Kekasih, momen-momen yang menguatkan keyakinannya tentang KEKELIRUAN Iblis. Sebagai sebuah karya, Kitab Tawasin mengkombinasikan tema-tema utama dari misinya dengan pengalaman hidupnya dalam bentuk drama yang melengkapi karya-karya sajak didaktik dan prosa-liriknya.

Selain itu Syekh al-Hallaj juga merupakan salah satu Sufi pertama yang memaparkan konsep doktrin “Nur Muhammad” yg kelak akan sangat memengaruhi ajaran Sufi generasi selanjutnya, termasuk ajaran martabat tujuh. Menurutnya, Nabi Muhammad memiliki dua hakikat, qadimah dan haditsah. Haqiqat al-qadimah adalah nur azali yang telah ada sebelum terciptanya alam semesta, hakikat yang menjadi sumber ilmu dan irfan, serta titik awal munculnya semua nabi, rasul dan wali Allah. Sedangkan haqiqat al-haditsah adalah perwujudan Nabi sebagai putra Abdullah. Pada hakikat yang pertama tadilah konteks Nur Muhammad itu. Dengan berdasarkan hadits bahwa ciptaan pertama adalah Nur-Nya, Syekh al-Hallaj mengatakan bahwa segala sesuatu di alam adalah dari Nur Muhammad. Nur Muhammad ini bersifat azali dan qadim. Maka Muhammad dalam bentuk hakikinya (Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad) adalah Nur Allah yang azali dan qadim, mendahului makhluk, sedang dalam kedudukannya sebagai rasul beliau adalah manusia yang bersifat baru, menjadi khatam al-anbiya. Jadi Nur Muhammad, meski mewujud paling akhir, namun ia muncul paling awal. Posisinya paling dekat dengan Tuhan. Jadinya manifestasi Nur Muhammad dalam wujud “manusia” Nabi Muhammad adalah Insan Kamil, manusia sempurna, tempat Allah bertajalli secara paripurna melalui sifat-sifat-Nya. Mengenai Nur Muhammad ini, Syekh al-Hallaj menulis dalam kitab Tawasin-nya:

Semua cahaya para rasul bermula dari cahayanya [Muhammad]; ialah yang mendahului semuanya, namanya tertera dalam kitab yang terpelihara; ia dikenal sebelum segala benda, segala makhluk, dan akan tetap ada sesudah segala sesuatu berakhir. Melalui bimbingannyalah semua mata melihat … Segala pengetahuan hanyalah setetes darinya, segala kearifan hanyalah secawan dari samudera kearifannya, seluruh waktu hanyalah sejam dari kehidupannya.

Syekh al-Hallaj juga dikenal sebagai penyair, menggubah banyak sajak mistik yang memerikan kerinduannya akan Tuhan. Salah satu sajaknya menggambarkan ajaran “kesatuan” yang kontroversial itu. Karena nada sajaknya demikian terang, maka banyak ulama zahir yang anti-tasawuf, yang hanya melihat pada teks lahiriah belaka, mengkafirkan Syekh al-Hallaj. Salah satu sajaknya yang terkenal dan menggambarkan metafora persatuan adalah seperti ini:

Aku mencoba untuk bersabar, tetapi bagaimana aku bisa bersabar jika pusat hatiku sedang resah?
Ruh-Mu bercampur dengan ruh-ku sedikit demi sedikit melalui penyatuan ulang dan perpisahan.
Dan kini aku adalah Engkau, eksistensi-Mu adalah eksistensiku, dan kehendak-Mu adalah kehendakku
Engkau kuasai hatiku, dan aku mengembara di setiap lembah
Hatiku tertutup, semua kantukku menghilang
Aku terasing sepi sendiri; berapa lama lagi kesendirianku akan berlangsung?

Ungkapan Ana al-Haqq, “Akulah Kebenaran,” yang menjadi sasaran utama kecaman ulama zahir, merupakan ringkasan dari doktrin Sufi yang rumit. Sesungguhnya Syekh al-Hallaj sendiri tidak hanya mengajarkan imanensi (tasybih) Ilahiah, tetapi juga transendensi-Nya (tanzih). Karena itu, ungkapan ini, menurut banyak ulama tasawuf, seperti Imam al-Ghazali dan al-Hujwiri, tidak boleh diartikan secara harfiah. Dalam beberapa tulisannya Syekh al-Hallaj dengan tegas menunjukkan transendensi (tanzih) Tuhan: “Engkau [Allah] adalah mengatasi segalanya … mengatasi segala pengertian.” Seperti doktrin mistisisme lainnya, ajaran Syekh al-Hallaj dari permukaan tampak paradoks. Di satu sisi beliau seperti menyatakan kesamaan Tuhan-makhluk, tetapi di sisi lain beliau dengan tegas membedakan keduanya.

Karena itu, untuk memahami ungkapan ini amat penting untuk menengok pada kondisi kejiwaan dan spiritual yang melatarbelakangi ucapan ini. Ketika manusia makin erat dan dekat hubungannya dengan Tuhan, maka Allah akan makin sering “mengunjungi” tahta-Nya yang ada di dalam hati hamba-hamba-Nya, dalam lubuk sirr. Ketika pengalaman itu begitu intim dan memuncak, hamba akan segera diliputi oleh kemahakuasaan-Nya, dan sang hamba tidak melihat apapun selain Tuhannya, bahkan tidak melihat dirinya sendiri. Karena segala yang dilihatnya adalah Tuhan, jiwanya menjadi guncang, tak mampu menerima karunia yang begitu dahsyat, hingga bahkan dirinya sendiri tenggelam dan ketertenggelaman itu, fana al-fana, penghapusan dalam penghapusan. Seluruh aspek keberadaannya terserap dalam Keberadaan Ilahi, sehingga terjadilah apa yang dikatakan dalam hadits qudsi: “Ketika Aku mencintai-Nya, maka Aku menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, pendengarannya yang dengannya ia mendengar ….” Pada saat inilah Allah “meminjam” lidah kemanusiaannya untuk menyatakan Kebenaran sejati dari Ke-Aku-an-Nya. Sesungguhnya tidak ada apapun selain “Aku,” yakni yang mengatakan ini. Maka dalam “persatuan” ini tidak boleh ada yang menghalangi, sehingga Syekh al-Hallaj pernah berucap, “Di antara aku dan Engkau ada “aku” yang menyiksaku, ya Allah dengan rahmat-Mu ambillah “aku” di antara kita.” Jadi yang bicara bukan “aku” al-Hallaj, sebab seorang hamba yang senantiasa bersama Allah “aku”-nya tiada lagi berperan.

Karena Allah berada di atas segala-galanya, maka seorang sufi lantas akan mengakui bahwa gagasan yang dibuatnya mengenai Allah adalah tidak lagi memadai atau bahkan tak lagi bermakna, dan bahkan menjadi hijab tersendiri, dan karenanya dia lalu membuang gagasannya itu supaya Allah sendiri yang mengajarkan kepadanya, supaya Dia menerangkan sendiri. Hingga pada titik tertentu, ketika pengalaman kedekatan ini makin intensif, dia diangkat derajatnya oleh Allah sendiri, dia akan dikuasai-Nya, bahkan ungkapan-ungkapannya juga akan “diambil” oleh Allah dan Allah memaksanya untuk melepaskan semua ungkapan-ungkapan semacam itu. Sang sufi menjadi “tidak ada”, fana, sebab “segala sesuatu adalah fana selain Allah,” lalu siapa lagi yang tersisa selain Allah yang berseru Ana al-Haqq? Dengan demikian, “penyatuan” cinta ini begitu mesra dan intim, tetapi kedua belah pihak, Tuhan dan manusia, tetap tidak identik, tetap berbeda:: makhluk tetap makhluk, dan Tuhan adalah Tuhan, seperti dikatakan Syekh al-Hallaj sendiri dalam kitab Tawasin: “Yang Haqq tetap Haqq, Pencipta tetap Pencipta, dan yang diciptakan tetap makhluk. Ini akan tetap senantiasa demikian adanya.”

Namun kebenaran dibalik Ana al-Haqq ini terlampau luas dan mendalam untuk diringkas dalam berjilid-jilid buku. Karenanya, sebagian sufi memandang bahwa kesalahannya bukan pada ungkapan atau maknanya itu, tetapi pada “kesalahan metodologis” Syekh al-Hallaj yang “membocorkan rahasia Ilahi” kepada orang-orang yang belum siap atau belum berhak menerimanya. Secara pedagogis, apa yang dilakukan Syekh al-Hallaj tidaklah efektif, dan bahkan berbahaya. Karenanya, Syekh Junaid al-Baghdad, ketika dimintai fatwanya untuk mengesahkan hukuman mati atas Syekh al-Hallaj, menolak permintaan itu. Baru setelah ketiga kalinya permintaan diajukan, Syekh Junaid menanggalkan khirqah kesufiannya, lalu mengenakan jubah keulamaannya, dan mengatakan, “Secara syari’at dia keliru, tetapi secara hakikat, Allah lebih tahu.”

Boleh dikatakan, secara historis, Al-Hallaj adalah titik puncak Tasawuf generasi awal. Sebagian menyebutnya sebagai ambang batas masa-masa pergeseran penekanan Tasawuf ke arah yg lebih tenang, tidak meledak-ledak seperti al-Hallaj. “”Jadzab” model al-Hallaj menjadi berkurang dalam periode selanjutnya. Sebagian yg dikuasai oleh jadzab biasanya lebih suka menyembunyikan keadaannya, seperti yg dilakukan oleh salah satu sahabat al-Hallaj, Abu Bakar as-Shibli. Beliau berpura-pura gila, sehingga dimasukkan ke rumah sakit jiwa, dan karenanya selamat dari hukuman mati. Dan melalui tokoh-tokoh sufi tersembunyi semacam Shibli inilah ajaran al-Hallaj menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam.

Pada periode transisi ke arah tasawuf yg lebih tenang ini, sesekali masih muncul penyair-penyair sufi yang jadzab, seperti Ruzbihan Baqli dan Niffari, dua penyair sufi yang rumit sajak-sajaknya. Tetapi sampai tingkat tertentu bisa dikatakan bahwa abad 10 ini mulai muncul sufi-sufi yg menyertakan argumen syariah yg lebih kokoh. Selama periode dinasti Abbasiyyah, efek dari doktrin al-Hallaj dianggap mulai berlebihan dan cenderung tidak baik secara pedagogis. Karenanya dirasakalah kebutuhan untuk mulai menyusun kitab-kitab yang bisa menjelaskan ajaran-ajaran mistis sufisme dengan cara yang lebih moderat dan disertai dalil. Peristiwa al-Hallaj menyebabkan para sufi menghadapi risiko diburu-buru oleh penguasa. Salah satu tokoh Sufi awal yg menyusun karya uraian ajaran Sufi dengan gemilang adalah Abu Nasr as-Sarraj, dengan kitabnya yang berjudul “Kitab Luma’ fi al-tashawuf. Persoialan-persoalan yang pelik dan berbahaya, seperti peristiwa al-Hallaj, dijelaskan dengan terang. Nasr as-Sarraj, yg dekat dengan sufi besar seperti Ibn Khafif, memiliki kepiawaian tersendiri dalam menyusun penjelasan yang lebih renyah, meski as-Sarraj sendiri sering dikuasai oleh jadzab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: